BLOG PINDAH
hehehe….Sudah sekian banyak pindah-pindah blog
sekarang mesti pindah lagi,cari suasana baru,bosen ama ini terus
SEE MY NEW BLOG
www.dolla.wordpress.com
hehehe….Sudah sekian banyak pindah-pindah blog
sekarang mesti pindah lagi,cari suasana baru,bosen ama ini terus
SEE MY NEW BLOG
www.dolla.wordpress.com
KU tertawan rasa gelisah dan gundah
saat ku selalu mengingatmu
ku tertahan rasa takut untuk berkata
aku inginkanmu
ku terbawa arus rendah diri
saat mesti selalu mengenangmu
apalagi jika harus berhadapan denganmu
aku sungguh nyaris jadi tak berarti
ku sadarkan diri ini
bahwa aku bukanlah seburuk yang terlintas dikepalaku
tapi keadaan selalu berkata lain
bahwa lintasan itu ternyata ada
ku kembali mengumpulkan sisa-sisa angan dan ‘azzam
tuk kembali menyatakan bahwa aku tak boleh mati
mati akan rasa dan cita yang terpendam
karena kalah dengan keadaan
aku memang bukanlah seorang pangeran
tapi aku memiliki jiwa calon pangeran
jika tidak bisa sendiri ku menjadi pangeran
denganmu bukankah itu bisa diwujudkan?
aku menata kembali hati yang telah berkali terluka
menyusunnya menjadi alunan indah dalam jiwa
mengutarakan dalam gerak keyboard nan suara tak berirama
aku tuturkan dalam kata dan performa bahasa
izinkan aku utarakan, aku mencintaimu segenap dirimu
aku mencintai keagungan akhlak dan tarbiyahmu
aku mencintai cita dan visi dirimu
aku mencintai apa yang engkau cinta ; Rabbi ‘izzati!
in my room, 23;53 WIB
Untuk Bidadari yang aku tak kenal siapa kamu.
Sebenarnya ini udah lama banget, tapi baru sempat nge upload sekarang.
Kemarin emang berbeda cuacanya dibanding hari ini, jika kemarin sering dilanda hujan, maka hari begitu terik.
Suasana diluar ruangan yang begitu panas membuatku memilih untuk bertahan didalam ruangan saja, sambil duduk termangu di depan komputer, ku coba memutar lagi memori kemarin sore yang begitu menyentuh bagiku.
Kemarin sore, sekitar 1000 Mahasiswa Universitas Andalas tumpah ruah di Auditorium unand untuk mengikuti Training ESQ. Training memang cukup menarik, tapi sayang trainer dan alumni banyak yang OMDO!!!.
Aku hadir disana sebagai peserta, mengikuti setiap rentak irama pembicaraan trainer yang diiringi musik dengan berbagai jenis aliran.
Hari menjelang sore saat beberapa peserta sudah mulai tampak menangis pada bab intropeksi diri, banyak peserta yang sudah meninggalkan rasa malu kepada kawan sebelahnya, isakan, suara takbir begitu menggema di tengah acara ESQ Training angkatan I.
Menangis, ya semua menangis, alumni dan peserta sebagian besarnya menangis, begitu juga aku. Tangisan itu bermula saat trainer bertanya, orang tuamu ataukah Allah yang lebih engkau cintai? di iringi musik trainer mengucapkan betapa besarnya nikmat Allah kepada kita, sering kita meminta ditambahkan rezki, minta diberikan ini dan itu, tapi pernahkah kita meminta cintanya Allah?
Semua lalu tersungkur menangis, aku tidak meski aku juga menangis, sungguh sore itu aku menangis. Tapi tangis bukan seperti yang di ucapkan oleh trainer, tapi aku menangis saat aku menyadari bahwa begitu mudahnya takbir bergema disini, begitu mudahnya acara yang bernuansa islami mengalir disini.
Jika aku membandingkan dengan OSPEK angkatanku, sungguh sangat jauh berbeda, OSPEK angkatanku untuk sholat saja susah, selalu telat jika tak pernah meninggalkannya. TApi hari, OSPEK di kampus malah mengadakan training ESQ.
Sungguh, aku bener2 terharu dan bisa berkata saat itu, begitu besar nikmat Allah, begitu tepat janjinya Allah, bahwa panji-panji Allah tetap akan jaya. Ada atau tanpa kita, disana aku menyadari bahwa sebenarnya peranku kecil, bahkan nyaris tak berarti jika dibandingkan dengan pesatnya perkembangan dakwah di sini.
Tapi dengan peran yang kecil itu perkembangan dakwah begitu pesat, gundah di jiwa menghasilkan satu keputusan padaku ; sesungguhnya bukan islam yang butuh kepada kita, tapi kitalah yang butuh islam. ya kitalah yang membutuhkan islam!!!
Kemarin emang berbeda cuacanya dibanding hari ini, jika kemarin sering dilanda hujan, maka hari begitu terik.
Suasana diluar ruangan yang begitu panas membuatku memilih untuk bertahan didalam ruangan saja, sambil duduk termangu di depan komputer, ku coba memutar lagi memori kemarin sore yang begitu menyentuh bagiku.
Kemarin sore, sekitar 1000 Mahasiswa Universitas Andalas tumpah ruah di Auditorium unand untuk mengikuti Training ESQ. Training memang cukup menarik, tapi sayang trainer dan alumni banyak yang OMDO!!!.
Aku hadir disana sebagai peserta, mengikuti setiap rentak irama pembicaraan trainer yang diiringi musik dengan berbagai jenis aliran.
Hari menjelang sore saat beberapa peserta sudah mulai tampak menangis pada bab intropeksi diri, banyak peserta yang sudah meninggalkan rasa malu kepada kawan sebelahnya, isakan, suara takbir begitu menggema di tengah acara ESQ Training angkatan I.
Menangis, ya semua menangis, alumni dan peserta sebagian besarnya menangis, begitu juga aku. Tangisan itu bermula saat trainer bertanya, orang tuamu ataukah Allah yang lebih engkau cintai? di iringi musik trainer mengucapkan betapa besarnya nikmat Allah kepada kita, sering kita meminta ditambahkan rezki, minta diberikan ini dan itu, tapi pernahkah kita meminta cintanya Allah?
Semua lalu tersungkur menangis, aku tidak meski aku juga menangis, sungguh sore itu aku menangis. Tapi tangis bukan seperti yang di ucapkan oleh trainer, tapi aku menangis saat aku menyadari bahwa begitu mudahnya takbir bergema disini, begitu mudahnya acara yang bernuansa islami mengalir disini.
Jika aku membandingkan dengan OSPEK angkatanku, sungguh sangat jauh berbeda, OSPEK angkatanku untuk sholat saja susah, selalu telat jika tak pernah meninggalkannya. TApi hari, OSPEK di kampus malah mengadakan training ESQ.
Sungguh, aku bener2 terharu dan bisa berkata saat itu, begitu besar nikmat Allah, begitu tepat janjinya Allah, bahwa panji-panji Allah tetap akan jaya. Ada atau tanpa kita, disana aku menyadari bahwa sebenarnya peranku kecil, bahkan nyaris tak berarti jika dibandingkan dengan pesatnya perkembangan dakwah di sini.
Tapi dengan peran yang kecil itu perkembangan dakwah begitu pesat, gundah di jiwa menghasilkan satu keputusan padaku ; sesungguhnya bukan islam yang butuh kepada kita, tapi kitalah yang butuh islam. ya kitalah yang membutuhkan islam!!!
Namanya saja aku tak tau, untuk wajahnya baru 2 atau 3 kali aku melihatnya.
Itu juga dari foto, di dunia maya lagi.
kalo sekarang aku ditanya, coba tunjukan yang mana bidadari itu, aku tak tau menjawabnya.
Bukan karena aku sombong, tapi karena aku merasa tak pantas untuk mengingat bidadari itu.
Meski dengan keterbatasan dalam ta’aruf itu tak membuatku segan untuk menyapanya ketika ku lihat icon onlinenya.
Ya, bukan karena aku lancang, tapi karena memang dia selalu ramah dalam banyak hal.
Dia memang tidak ada setiap saat, tapi setidaknya dia ada pada waktu yang tepat.
Hari ini aku agak gelisah, gak tau deh kenapa.
Ku mencoba untuk online, mencari kawan-kawan untuk berbagi. Tapi aku tak menemukannya.
Kecuali manusia satu ini, mantan ketua keputrian di salah satu kampus di bandung.
Mesti dengan jarak ni, ku merasa ada saudara yang menjadi kawan inspirasi ku.
Ah, kata terakhir ini emang selalu kucari dengan berbagai hal.
Rie, panggilan itu yang selalu aku sebut saat menyapanya, sisanya riana, tapi jarang.
dia memang gak terlalu jelas bagiku, tapi cukup menjadi sahabatku…
Dengannya aku telah bercerita banyak hal, dari ummat sampai “calon ummahat”.
dia tau tipe bidadariku, dia juga tau beberapa hal tentang ku, tapi aku tak pernah tau lebih dari info sekedarnya.
Sudikah engkau yang bidadari menjadi sahabat bagi punggawa ini?
(ku tulis ini saat masih chat dengan manusia mulia ini, akang akan doakan yang terbaik buatmu rie)
Malam udah mulai larut, waktu sudah menunjukan jam 22;37, sedangkan aku masih didepan komputer yang agak butut (gak syukur nikmat bangetseh lo!).
Udah beberapa hari gak ada ide sama sekali menulis, padahal tawaran sudah ada dari penerbit, emang aneh neh. Giliran gaka da tawaran, malah nulisnya jadi lancar.
Tadi nyambut anak2 bisnis internasional dari Universiti tekonologi mara (UiTM) malaysia. Jadi sekarang agak kecapean, tapi karena masih ada amanah yakni nempel pamflet ke kampus, ya begadang dikit, hitung2 pahala dan bersyukur nikmat.
Pas nungguin yang laen, mikir juga buat on line, wah pas udah online, gak ada ide banget, suntuk, buntu. Buat pusing ajah.
Akhirnya yang namanya sumpek itu ilang juga pas ngeliat alamat web salah seorang MyQer’s, akses aja di nikahan.maswahyu.com, tu akhi semangat amat mau nikah, eh si akhwatnya baru di kasi gambar biasa. Hihih…
emang kalo udah cerita tentang nikah dan lawan jenis, gak pernah habis deh, dan gak bikin ngantuk. Hehehe…
Jadi ingat diriku, nertawain diri, tapi…..sama ajah. Hahaha
Duhai Allah…
kenapa kepedihan dan cobaan serupa kembali hadir
bertahun lalu ketika dia hadir yang membuat diriku dan lingkunganku hancur
aku terpukul jatuh pada titik terendah dalam hidup
lalu, dia hadir kembali
apakah kembalinya untuk memukul jatuh diriku lagi?
ataukah ini permainan “indah” Mu?
Jika memang ini ujian naik tingkat bagiku…
rihdoi aku sebagai pemenang atas keadaan.
Duh, gak kebayang deh sebelumnya kalo blog ini bakalan dikunjungi oleh orang-orang, ya karena memang aku bukanlah seorang penulis terkenal. Lalu buat apa seh orang mengunjungi blog ini.
Lagian, aku disini hanya menumpah isi pikiranku agar tak begitu menumpuk dipikiran yang akhirnya akan mengganggu regedit komputer otakku. Gak lebih dan tidak kurang.
aku hanya menulis pemikiran disini atau terkadang mengkopi tulisan dari blog tetangga, tapi siapa sangka ternyata banyak juga yang minat. Eh, koq jadi sombong? (Istighfar ouy).
Ah, mudah-mudahan tulisan kecil di blog ini dapat memberikan makna positif bagi pengunjung semua, mudah-mudahan ini menjadi ladang amal bagiku dan mempermudah masuk ke surga Allah SWT.
Selamat menikmati menu ala kadarnya di blog ini, selamat menebak karakterku dari tatanan blog, untaian kata, serakan jiwa yang dipungut menjadi sebuah kalimat.
Percaya gak kalo dunia ini selalu turun naik layaknya keimanan seorang hamba?
Seperti kata Rasulullah SAW, iman itu turun naik.

Hari ini sepertinya aku mengalami hal yang seperti diatas. Hari ini imanku gak teratur, meski kegiatanku cukup positif hari ini. Aku bersih-bersih kamar sekaligus reinstal komputer kesayanganku yang “belum lunas”. HIhihi…
Tapi gak tau juga kenapa seperti itu, rasanya ada yang menganggu pikiran dan jiwaku sehingga membuatku agak sedikit lemas menjalani aktivitas sehari-hari. Tadi mestinya aku ada acara pembahasan BIMBA di DPD, tapi karena aku begitu bosan dengan jiwaku, aku urungkan niatku untuk berangkat padahal aku telah bersiap sedia.
Malam ini, sebenarnya aku punya akses untuk datang MABIT dikampusku malam ini, tapi aku tidak melakukannya karena dengan alasan yang sama!.
Andainya ada yang selalu menguatkanku!
Alangkah senangnya jika ada yang selalu mengingatkanku ketika aku alpa seperti saat ini.
Duhai Allah, lama ya lagi aku gini? Dah agak susah neh manajemen hatinya. Plis ya Allah, give a true soulmate right now. Plis…
***

Bagai gambar diatas, ku merindukan penyinar itu tatkala hatiku galau. Tentu lebih tepat lentera jiwa bagiku. Karena memang, amanah banyak tapi amniha gak ada. Hiks…
Emang Allah tidak akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuannya, berarti kemampuanku masih ok neh. Cuma, lebih cepat lebih deh.
kuamaha?

Jalannya panjang
Penuh dengan onak dan duri
Orangnya sedikit.
***
Itulah gambaran perjalanan yang masih sangat panjang ini. perjalanan yang hanya di usung oleh orang-orang yang memang memiliki mental baja, memeliki bahu yang tangguh. Karena bebanya juga berat.
Perjalanan nan jauh ini tak satupun orang bisa mengukurnya kapan akan berakhir, bahkan, panjangnya perjalanan ini lebih panjang dari usia orang-orang yang berjalanan di atasnya.
Begitu banyak orang yang keluar masuk dari perjalanan ini. Ada diantara meraka yang terus bertahan sampai memang kontrak hidupnya di dunia ini telah habis. Ada juga diantara mereka yang sampai hari ini masih melakukan perjalan ini, dengan nafas yang terbata, dengan kondisi tubuh yang sudah lunglai mereka tetap disini. Karena sebuah tiket mahal hanya dapat diraih dari perjalanan panjang ini.
Tapi, ada juga diantara para musafir yan mengikuti perjalanan ini lantas keluar ditengah jalan dan mencoba mencari jalan lain. Mereka tidak sanggup menghadapi setiap duri yang ada disepanjang jalan ini, mereka tidak kuat tatkala perjalanan masih jauh tapi orang yang berjalan amatlah sedikit, mereka tak mampu bertahan tatkala mereka merasa tak sanggup untuk melewatinya.
Hanya, hanya kesungguhan, ketabahan, perbekalan yang cukup sajalah yang mampu melewati perjalanan ini.
Perjalanan dakwah ini, ya itulah nama perjalanan panjang itu. perjalanan kita untuk kembali menegakan kalimat Allah sebagai satu-satunya yang tertinggi itu.
Tarbiyah, itu juga nama dari perbekalan kita untuk tetap disini. Di jalan ini, dijalan para Nabi dan Rasul. Karena hanya dengan tarbiyah kita mampu untuk tetap berjalan tatkala orang-orang sudah mundur secara teratur dari jamaah dakwah ini.
Surga, tiket ke surga itulah yang kita cari. Tiket yang hanya didapatkan dengan tebusan harta dan jiwa. Surga memang bertingkat, semakin besar titik perjuangan kita maka akan semakin besar peluang mendapatkan surga di level atas. Tapi jika kerja asal, maka surgapun yang sekedar, karena semua orang yang bersyadahat pasti masuk surga.
***
Sungguh perjalanan ini telah membuktikan bahwa orang-orang didalamnya bukanlah orang sembarangan, orangnya sering dicaci oleh musuh-musuh agama ini bahkan cacian dan makian itu berasal dari orang yang pernah berada di jalan ini.
Biarlah kawan, biarlah semua dunia mengatakan kita adalah generasi aneh, kita tak mampu berbuat banyak tatkala kita telah berada cukup menang. padahal, jika kita telaah, di Senayan sana kita hanya 7 %, sedangkan bukan kita ada 83 % lagi. Biarlah, dengan jumlah yang sedikit itu kita buktikan bahwa kita mampu mencengangkan dunia dengan kesabaran dan kuatnya perjuangan kita.
***
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelah masa
segores luka, dijalan Allah
Kan menjadi, saksi pengorbanan
Allah tujuan kita
Rasul tauladan kita
Al Quran pedoman kita
Jihad jalan kita
Syahid cita kita tertinggi
Camkan itu kawan, yakinkah lah bahwa janji Allah adalah nyata. Bukankah Allah telah mengatakan dalam surat Muhammad : 7 ; Surat At Taubah ; 111.
AH, tak banyak alasan bagi kita untuk pergi meninggalkan perjalanan panjang ini.
Aku tak bisa merubah mui, yang ku bisa mengirimkan doa cinta ku padamu, ku berharap kita dapat bertemu di surga ALlah dalam menatap wajah Sang Maha AGung, Allah SWT.
foto dari internet
Untuk para pembuat blog yang menkspose berita bohong tentang akhwat…
Untuk para binatang yang mencoba me edit foto-foto wanita yang ingin menjaga dirinya…
Untuk para pendusta yang mengarang berita bohong tentang kehidupan akhwat…
Untuk kalian yang mencoba mengganggu para akhwat…
Demi Allah…
Aku akan menghajar kalian dengan semua potensiku
Aku akan menghantam kalian dan mengganggu waktu-waktu istirahat kalian
Aku bersumpah untuk terus mengusik ketenangan kalian karena kelancangan kalian.
**Kekesalanku atas banyaknya blog yang menulis berita bohong tentang para wanita yang aku begitu menyanjungnya.
Malam ini aku berputar indah di blog beberapa kawan yang aku duga tidak memiliki blog. Membaca dan mengamati banyak tulisan dari saudara-saudara yang berada di sekelilingku.
Banyak hal yang mereka ungkapkan dalam tumpahan pikiran mereka di blog ini, mulai dari kuliah, perasaan hati, kondisi tarbiyah sampai rumah.
Ada seorang sahabat, yang ternyata begitu merasakan indahnya hidup di wisma, indahnya hidup dengan sistem yang tertata rapi. Memang dulu dia orangnya agak susah diatur, mungkin diarahkan. Ketika di ajak untuk kegiatan dakwah, selalu ada alasan untuk menolaknya. Tapi hari ini, dia sudah berubah, dia sudah banyak merubah pola pikir dan menguatkan komitmen dakwahnya.
Sahabat itu adalah Fajar Wisga Permana. Anak Payakumbuh yang punya bakat di program, design dan seni. Tetap semangat sahabatku, kita akan buat para ikhwah wisma lain cemburu dan iri kepada wisma kita, kita akan tunjukan kepada dunia bahwa kitalah generasi yang akan merubah dunia ke arah yang lebih baik. Kita juga akan tunjukan kepada Hamba-Hamba Allah bahwa kitalah orang yang paling terdepan dalam berjuang di medan dakwah ini.
***
Mengingat semua itu, aku mulai terasa bahwa memang sesuatu yang berasal dari hati akan menyentuh hati. Sesuatu jika dilakukan dengan ikhlas maka akan berbuah dengan buah yang manis.
Aku banyak mengajarkan tentang blog, website, pokoknya IT kepada kawan-kawanku, dan ternyata mereka menyambutnya. Padahal aku tidak pernah berpikir secepat itu mereka menyerap apa yang aku ajarkan. Padahal, aku mengajarkan dengan metode sedikit “cemooh”. Cemooh yang membuat mereka lebih termotivasi.
Aku jadi ingat ketika aku mengikuti LPK (Latsar Pandu Keadilan), aku satu kelompok dengan orang-orang yang anggotanya banyak telah tua.
Bersama kami melewati rintangan selama LPK, push up, kehabisan bekal dalam perjalanan, tubuh yang berdarah-darah, tangan yang terkilir, kaki yang sudah seperti ban mobil. Ya, selama fase itu kami selalu bersama.
Sampai satu ketika, disaat kami sudah mencapai puncak gunung sago yang kami daki selama 24 jam itu, salah satu anggota tim kami yang memang paling lemah diantara kami berucap : terima kasih telah mengantarkan saya sampai ke puncak!.
Deg…hatiku berdegup kencang, kami bersama dari kaki gunung dengan kondisi yang parah, kami selalu saling menunggu tatkala ada yang meminta berhenti, dan itu kami lakukan tanpa pernah kami berpikir bahwa kami nanti akan mendapatkan ucapan terima kasih.
Memang ikhlas itu akan selalu mendatangkan keberkahan.
Rabbi, bantu aku untuk menjaga keikhlasan ku untuk berjuang selalu di Jalan Mu.
Amin.
Gak jelas deh, akhir-akhir ini aku kurang bisa konsentrasi. Pikiranku selalu bercabang, badan agak lemas terus, pengennya di kamar trus.
Duh gejala apa ya?
Sejauh ini, semua amanah masih aman dan terkendali, sesuai dengan target, tapi kenapa amalan yaumi terganggu?
Duh, kasih semangat dunk!
Hehehe…
aku gak tau harus memulai dari mana
yang jelas malam ini aku mencari di google, blog yang berisikan tentang cinta.
aku akan masukan ke blog ini jika memang sesuai kriteria.
hihi…
ada yang lucu
ada yang mengharukan
ada yang happy ending
ada juga yang sedih
pokoknya komplet soal cintanya…
1. Kami sulit menahan pandangan mata ketika melihat kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan ALLAH kecantikan dan postur yang ideal, kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian, karena itu lebarkanlah pakaian kalian, dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian para akhwat dengan kerudung yang membentang.
2. Kami juga sulit menahan pendengaran kamiketika berbicara dengan kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan oleh ALLAH suara yang merdudengan irama yang mendayu, karena itu tegaskanlah suara kalian, dan berbicaralah seperlunya
3. Kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati kalian para akhwat, ketika kalian dapat menjadi tempat mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian
4. Kami juga ingin terus dekat dengan kalian para akhwat, tapi maaf bukan karena apa-apa tapi lebih karena dorongan “itu”, kata dokter sih ada hubungannya dengan hasrat kami, makannya kami selalu mencari cara agar bias untuk terus dekat dengan kalian, apakah itu dengan telefon, sms, chatting, bertemu muka, apalagi klo kalian mau menjadi pacar kami(ehm….ehm…) minimal kami bias berpegangan tangan dengan kalian, karena itu pertama nasehatilah kami akan azab allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami.
***
Dari IPB
Seketika mata tua itu berbinar senang seraya menatap anak laki-lakinya. Terlintas di pikirannya, gubuk kecil ini akan penuh dengan limpahan kebahagiaan. Ditemankan seorang gadis cantik yang kelak menjadi menantunya, hingga terbayang pula celoteh, canda dan tawa cucu-cucu yang memenuhi setiap sudut rumah.
Ditatapnya kembali pemuda tanggung yang berdiri dengan gagah di depannya. Ia telah tumbuh besar, bukan lagi bocah kecil yang dulu sering dijewer telinganya saat nakal. Tak pula sepotong kue yang disodorkan akan membuatnya menghentikan tangisan.
Bocah ingusan itu telah dewasa, bahkan terlihat lebih dewasa dari usianya. Sorot matanya tajam laksana elang, rahang kukuh dan ditumbuhi cambang, serta tubuh yang tegap bagaikan prajurit yang tak sabar menanti genderang perang ditabuhkan.
Seakan tak percaya pada sekian waktu yang telah berlalu, tangan yang telah keriput dimakan usia itu bergerak perlahan menyentuh wajah di hadapannya. Lalu dielusnya dengan lembut, penuh dengan selaksa cinta. Paras wajahnya mewarisi ketampanan asy Syahid, suaminya tercinta.
Ia memang telah dewasa dan saatnya telah tiba untuk menikah, hati kecilnya bergumam bahagia.
*****
Sepekan pun berlalu dalam guliran usia dan waktu. Seiring itu pula, alunan bacaan al Qur‘an semakin terdengar merdu dan syahdu. Hampir setiap saat, lelaki itu selalu bersama mush-haf al Qur‘an kecil yang tak pernah jauh dari sisinya. Menjelang saat pernikahan, ia memang semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ibadah wajib bahkan sunnat pun tampak semakin khusyuk dilakukan.
Saat ini, pemuda itu kembali berdiri di hadapan ibunda tercinta. Ia semakin tampan, wajahnya tampak bercahaya, gagah walaupun tanpa mengenakan pakaian pesta seperti layaknya mempelai yang akan menikah. Ia tersenyum, sedikit menganggukkan kepala lalu memeluk dengan penuh kasih sayang wanita yang melahirkannya. Pelukannya lambat laun semakin erat, bagaikan sebuah salam perpisahan.
Ibunda pun menangis, isakannya terdengar saling memburu dan membasahi kafeyah. Mata hatinya sebagai seorang ibu, telah menerka makna pernikahan sesungguhnya yang diinginkan buah hati tercinta. Sekelebat kebahagiaan yang terlintas beberapa hari lalu di pikirannya, semata-mata hanyalah pelipur lara bagi fitrahnya sebagai seorang ibunda.
Pemuda yang lahir dari rahimnya, dibuai dan telah dibesarkan ini bukanlah miliknya, tapi milik zamannya. Kini anak panah itu telah siap meluncur dari busur, pedang siap terayun menebas musuh, butir peluru pun siap ditembakkan dan melaju.
Untaian do‘a, baluran cinta dan alunan senandung jihad yang senantiasa menemani lelap tidur anaknya telah menjelma dalam setiap helaan nafas dan butiran darah. Hidup bagi seorang laki-laki sejati di bumi al Aqsa hanyalah perjuangan yang tak pernah padam, mengusir zionis jahanam, laknatuLlah.
Dilepaskannya kepergian buah hati tercinta dengan ikhlas, penuh keredhaan dan iringan do‘a. Tak ada lagi tangis, apalagi sedu sedan dari sudut mata tuanya. Hanya tatapan kasih sayang dan senyum kebanggaan.
Sang pemuda melangkah dengan penuh keyakinan menuju gerbang pernikahan yang dihiasi mahligai cinta. Mahar yang akan diberikan pun telah siap di balik baju, melilit sekujur tubuh.
*****
Malam itu, hanya sepenggal bulan bergelayut di awan. Angin berhembus lirih, burung malam pun enggan bersenda gurau. Senyap dan kelam membalut kesunyian.
Pecah…
Menggelegar membelah angkasa. Lalu tanah pun merekah oleh suara-suara tapak sepatu bot dan deru mesin pembunuh. Mereka bergerak menuju semburat titik api yang memancar dari Jalur Gaza. Kata makian dan sumpah serapah berhamburan, meracau tak karuan. Wajah-wajah itu berang, marah dan menyeringai bagaikan srigala yang mulutnya masih berlumuran darah.
Sisa kebisingan itu menelisik dari celah-celah dinding, menyapa seorang perempuan yang baru saja selesai menunaikan sholat malamnya di sebuah gubuk tua. Ia tersenyum, lalu diambilnya sebuah mush-haf kecil, dan didekapnya dengan selimut kasih sayang. Lembut dibelainya, bagaikan membelai syuhada saat masih bocah. Ia bernyanyi kecil dengan senandung jihad, seraya beringsut menuju sebuah kamar.
Perlahan dikuaknya daun pintu kayu agar buah hati tercinta tidak terjaga dari tidur. Dengan kasih sayang lalu diletakkannya di pembaringan, dan ia pun beranjak keluar.
Semerbak…
Bau wangi menyeruak dan merebak dari kamar syuhada, harum bagaikan khas keharuman sebuah kamar mempelai yang akan mereguk cinta di malam pertama.
WaLlahua‘lam bi shawab.
Author: Ferry Hadary
(Sebuah persembahan cinta untuk para syuhada)
dari blog tetangga
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer