..::My Diary is My Best Friend::..

October 25, 2007

BLOG PINDAH

hehehe….Sudah sekian banyak pindah-pindah blog
sekarang mesti pindah lagi,cari suasana baru,bosen ama ini terus

SEE MY NEW BLOG

www.dolla.wordpress.com

July 21, 2007

Manhaj haraky

Filed under: Umum, Sirah

Manhaj Haraki
Judulnya se asyik banget. Manhaj Haraki (pedoman pergerakan). Alhamdulillah aku udah “wisuda” membacanya. Dua jilid buku telah ku selesaikan dan sekarangpun masih ku ulang-ulangi lagi.
Membacanya sangat asyik, isinya tentang marhalah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menegakan kalimat Allah SWT.
Banyak kisah yang dijadikan ibroh oleh penulis untuk dijadikan acuan dalam bergerak saat ini. Mudah-mudahan anda juga bisa membacanya seperti saya membacanya dengan nikmat.
Selamat membaca, beli aja, murah koq.

May 14, 2007

Ujian adalah tiket menuju Surga

Filed under: Umum, Sirah

Sesungguhnya di surga ada tingkatan yang tidak dapat dicapai oleh seorang hamba dengan amalnya, apa pun amalnya.
Allah telah menyediakan kedudukan tertentu di surga bagi hamba-hamba Nya yang beriman bukan karena amal mereka melainkan karena ujian dan cobaan yang menerpa. Oleh karenanya, Allah SWTmenyiapkan bagi mereka sebab-sebab yang akan mengantarkan mereka kepada ujian dan cobaan itu. Ya, sama persis seperti halnya Dia memberikan taufik kepada mereka yang beramal shalih yang juga merupakan sebab-sebab yang akan menyampaikan mereka kesana.
Ada tingkatan iman yang tidak bisa dicapai oleh seorang hamba dengan amalnya. Ia hanya akan mencapainya dengan ujian dan cobaan. Allah ber iradah (berkehendak) untuk meningkatkan imannya. Maka Allah pun menetapkan ujian dan menolongnya untuk bersabar dan teguh menghadapinya. Jadi ini merupakan rahmat dari Nya bagi sang hamba.
Bukankah sekiranya orang-orang musyrik Quraisy tidak merampas harta shuhaib ar-Rumiy karena ia tidak akan mencapai derajat ”Wahai Abu Yahya, perniagaanmu benar-benar beruntung”.
Bukankah sekiranya keluarga Yasir tidak merasakan pedihnya siksa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Quraisy niscaya tidak akan sampai ke derajat, ”bersabarlah wahai keluarga Yasir, seungguhnya bagi kalian adalah surga”.
Sekiranya Anas bin Nadlar tidak tercecah tubugnya dalam perang uhud, ia tidak akan mendapatkan kemuliaan, “seandainya ia bersumpah, memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya”.
Kalaulah bukan karena itu, niscaya wajahnya tidak akan berseri-seri dan tidak akan terealisirlah apa yang di inginkannya saat ia bersumpah, ”demi Allah, gigi depan Rubayyi’ tidak akan copot”.
Jika bukan karena siksa yang dirasakan oleh Bilal bin Rabah dari umayyah bin khalaf dan algojo-algojonya, niscaya ia tidak mendapatkan gelar, ”Bilal, penghulu kita”.
Kalaulah bukan karena kesabaran Yusuf AS saat digoda dan saat dipenjara, ia tidak akan mendapatkan panggilan ”wahai yang terpecaya” (Yusuf :46).
Sekiranya bukan kesabaran Umar bin Khattab mengenyam pahit-pahitnya kebenaran dan keadilan, niscaya tangannya tidak akan terbentang menguasai dunia se isinya, atau seperti banyak dikatakan, ”tangganya terbentang, menyentuh bumi dengan kilau perhiasan”.
Sekiranya bukan karena kesabaran Umar bin Abdul ’Aziz mengenyam getir-getir kebenaran dan keadilan, ia tidak akan diakui sebagai khalifah kelima.
Jika bukan karena kesabaran ashhaburraji’ atas apa yang menerpa mereka dijalan Allah, nsicaya mereka tidak akan menjadi orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman Nya :
”Dan diantara sebagain manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mendapatkan ridha Allah”(Qs. 2 : 207).
Jika bukan karena kesabaran Sa’ad bin Mu’adz, perjuangannya di jalan Allah, darahnya mengalir saat perang khandaq, dan hukumnya yang adil terhadap Bani Quraizhah, niscaya ia tidak akan meraih derajat ”Arsy ar-Rahman berguncang saat kematian Sa’ad”.
Jika bukan karena kesungguhan, pengorbanan, dan kesabaran ’Abdullah bin Haram saat perang uhud dan sebelumnya, ia tidak akan meraih derajat, :wahai hamba-Ku, berangan-anganlah, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu”.
Andai bukan kerana kesabaran Ahmad bin Hambal dalam menghadapi siksaan dan keteguhannya diatas kebenaran, ia tidak akan mencapai gelar ”imam ahlussunnah”.
Andai bukan karena kesabaran dan keteguhan sayyid qutb dalam menghadapi ujian dan saat digantung, kata-katanya tidak akan dikenang dan buku-bukunya pun tidak akan tersebar dan berpengaruh diberbagai belahan dunia.
Maka, jika Allah ber iradah(berkehendah) untuk memilih sebagaian hambaNya supaya menjadi Syuhada’, Dia akan menguasakan musuh kepada mereka yang akan membunuh dan menumpahkan darah mereka dalam cinta dan ridha Nya, supaya mereka mengorbankan jiwa mereka di jalan Nya.
Syahadah adalah derajat tertinggi setelah derajat para Nabi dan Shiddiqin. Syuhada’ adalah orang-orang yang berkorban untuk Rabbnya. Mereka telah ridha kepada Allah, dan Allah pun memilih mereka untukNya sendiri.
Karena itulah Allah mengadakan sebab-sebab untuk itu. Allah menjadikan musuh Nya – yang juga musuh orang-orang beriman- sebagai sebab tercapainya syahadah orang-orang yang beriman.
Sungguh derajat yang tinggi.
Apabila Allah beriradah untuk mengangkat para da’i dan para mujahid ke derajat ini, maka mereka harus terbunuh di tangan musuh.
Disana ada dosa yang besar yang hanya dapat dihapus oleh kebaikan yang besar atau ujian yang berat. Maka Allah menetapkan ujian bagi wali-waliNya, supaya dosa-dosa mereka terhapuskan; yang kecil ataupun yang besar, yang tampak ataupun yang kasat mara, yang awal ataupun yang akhir, sampai tak tersisa lagisatu kesalahanpun. Lalu mereka menghadap Rabbnya sedangkan dosa-dosa mereka telah berguguran.
Kemuliaan yang tak terkirakan dan derajat sangat tinggi!.
Kiranya inilah yang di isyaratkan oleh hadist yang diriwayatkan oleh at-Tarmidzi dari Abu Hurairah Ram katanya, Rasulullah SAW bersabda :
Ujian akan terus menimpa seorang mukmin ; laki-laki dan perempuan, menimpa dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.

penawar lelah pengemban dakwah, DR.Abdullah Azzam

May 5, 2007

Onta Itu Mengadu Kepada Rasulullah

Filed under: Sirah

Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta.

Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah saw. Ia merintih. Air matanya jatuh berderai. Rasulullah saw. mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam.

Kemudian dengan wajah penuh kemarahan, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah pemilik unta ini, siapakah pemilik unta ini?”

Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar.

“Itu adalah milikku, ya Rasulullah,” katanya.

Rasulullah saw. berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.”

Subhanallah! Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas habis dengan pekerjaan yang sangat berat. Kisah ini bersumber dari hadits nomor 2186 yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Kitab Jihad.

Bagaimana jika yang mengadu adalah seorang pekerja yang gajinya tidak dibayar sehingga tidak bisa membeli makanan untuk keluarganya, sementara tenaganya sudah habis dipakai oleh orang yang mempekerjakannya? Pasti Rasulullah saw. lebih murka lagi.

Di kali yang lain, Abdullah bin Umar menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang wanita disiksa karena menahan seekor kucing sehingga membuatnya mati kelaparan, wanita itupun masuk neraka.” Kemudian Allah berfirman –Allah Mahatahu—kepadanya, “Kamu tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum saat ia kamu pelihara; juga engkau tidak membiarkannya pergi agar ia dapat mencari makanan sendiri dari bumi ini.” (HR. Bukhari, kitab Masafah, hadits nomor 2192).

Yang ini cerita Amir Ar-Raam. Ia dan beberapa sahabat sedang bersama Rasulullah saw. “Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami,” kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepadanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam.

Lelaki itu berkata, “Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.”

Rasulullah saw. berkata kepada lekaki itu, “Letakkan mereka.”

Kemudian anak-anak burung itu diletakan. Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka.

“Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya?” tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat yang ada waktu itu.

“Benar, ya Rasulullah,” jawab para sahabat.

“Ketahuilah,” kata Rasulullah saw. “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.”

“Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula.

Begitulah Akhlak terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah saw. Bahkan, membunuh hewan tanpa alasan yang hak, Rasulullah menggolongkan suatu kezhaliman. Kabar ini datang dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.”

Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak burung tersebut?”

Beliau menjawab, “Menyembelihnya, dan tidak mengambil lehernya lalu mematahkannya.” (HR. Ahmad, hadits nomor 6264)

Jika kepada hewan saja kita memenuhi hak-haknya, apalagi kepada manusia. Adakah hak-hak orang lain yang belum kita tunaikan?

dari dakwatuna.com

Urutan Khilafah Islamiyah

Filed under: Sirah

Ada begitu banyak analisa para pemikir dan pengamat tentang sebab-sebab jatuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Baik yang bersifat lebih teknis maupun sebab-sebab yang bersifat lebih umum.

Sebab-sebab secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara umumnya saja.

A. Sebab Ekternal

Sudah kita ketahui bersama bahwa Khilafah Turki Utsmani kalah pada perang dunia pertama. Sebagai negara yang kalah perang, maka negeri itu dengan mudah ditindas, dirampok dan juga diperebutkan wilyahnya oleh para pemangsa dan lawan-lawannya.

Sampai terjadi penghinaan yang begitu besar, di mana bangsa Turki yang secara geografis memang penduduk Eropa dilecehkan dengan ungkapan “The Sickman in Europe.” Bahkan kata “turkey” dalam ungkapan mereka merupakan pelecehan, yang artinya ayam kalkun.

Pahlawan dan tokoh muslim Turki pu tidak luput dari penghinaan. Salah satunya adalah Barbarossa si Janggut Merah. Di dalam cerita Asterik, tokoh Barbarosssa muncul sebagai bajak laut yang bodoh. Padahal beliau adalah pahlawan Islam di masanya dan pelaut kafir Eropa sangat takut dengan angkatan perangnya.

B. Sebab Internal

Penjajahan barat terhadap Turki semakin menusuk tatkala mereka berhasil meraih generasi muda Turki dengan pendidikan ala barat. Tentu saja semua itu untuk mendapatkan satu tujuan, yaitu sekulerisasi selapis generasi. Maka lahirlah kemudian generasi baru yang anti Islam, Islamo-phobia, sekuler, liberal dan berotak barat.

Mereka inilah yang kemudian didukung oleh Eropa untuk menumbangkan lembaga khilafah Islamiyah. Tercatat tokohnya adalah Mustafa Kemal Ataturk yang terlaknat. Sosok ini telah berhasil menumbangkan khilafah pada tahun 1924 lewat gerakan Turki Muda.

Sayangnya, hujaman belati mematikan ini justru masuk ke dalam pelajaran sejarah di negeri kita sebagai kebangkitan, bukan sebagai kejahatan. Rupanya, jaring-jaring kerja bangsa-bangsa kafir itu sedemikian luas, sehingga sosok Kemal Ataturk yang zhalim itu, justru muncul dalam buku sejarah kita sebagai pahlawan.

Padahal Kemal telah melakukan dosa yang bahkan Iblis pun tidak pernah melakukannya. Yaitu menumbangkan satu rangkaian khilafah Islamiyah yang terakhir. Padahal belum pernah sebelumnya umat Islam di dunia hidup tanpa naungan khilafah.

Sebab khilafah sudah ada sejak zaman Rasululullah SAW hidup, yakni sejak 15 abad yang lalu. Selama itu, umat Islam belum pernah hidup tanpa ada khilafah. Iblis dan para jin tidak pernah mampu menumbangkannya. Tiba-tiba seorang sekuleris yang nota bene agamanya masih Islam, malah menumbangkannya. Walhasil, sejak jatuhnya khilafah Turki, umat Islam masuk dalam bid’ah kubro. Sebuah bid’ah teramat besar yang melebihi semua jenis bid’ah yang pernah ada. Dan tentunya sangat dibenci dan dimurkai. Sebuah bid’ah berupa umat Islam hidup tanpa naungan khilafah.

Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam

Dengan wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 623 M, umat Islam segera membaiat Abu Bakar ra sebagai pengganti beliau. Istilah pengganti ini dalam bahasa Arab adalah khalifah. Lengkapnya, khalifatu rasulillah atau pengganti Rasulullah. Maksudnya bukan menggantikan posisi kenabian Muhammad SAW, melainkan posisi beliau SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Sebab nabi kita itu selain sebagi nabi, juga berperan sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.

Selain itu, ada juga sebutan lain buat posisi tertinggi umat Islam sedunia, yaitu istilah Amirul Mukminin. Artinya adalah pemimpin umat Islam.

1. Khilafah Rasyidah

Khilafah Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW. Terdiri dari 4 orang atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah secara bergantian. Mereka adalah:

Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)

‘Umar bin Khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)

‘Utsman bin ‘Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)

‘Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M) dan

Al-Hasan bin ‘Ali ra (tahun 40 H/661 M)
Masa berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai khilafah rasyidah karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang mendapat petunjuk. Dan memang ada pesan dari nabi untuk mentaati para khalifah rasyidah ini.

2. Khilafah Bani Umayyah

Khilafah ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri untuk masa waktu sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era khulafa ar-rasyidin selesai. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

Mu’awiyyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)

Yazid bin Mu’awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)

Mu’awiyah bin Yazid (tahun 64-65 H/683-684 M)

Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)

Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-86 H/685-705 M)

Walid bin ‘Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)

Sulaiman bin ‘Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)

Yazid bin ‘Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724M)

Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)

Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)

Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)

Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)

Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)
Sebenarnya khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah, sebab satu dari keturunan mereka ada yang menyeberang ke semenanjung Iberia dan masuk ke Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan khilafah tersendiri yang terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.

3. Khilfah Bani Abbasiyah

Kemudian kekhilafahan beralih ke tangan Bani ‘Abasiyah yang berpusat di Baghdad. Total masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah pertama adalah Abu al-’Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah.

Secara rinci masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

Abul ‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)

Abu Ja’far al-Manshur (tahun 137-159 H/754-775 M)

Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)

Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)

Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)

Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)

Al-Ma’mun (tahun 198-217 H/813-833 M)

Al-Mu’tashim Billah (tahun 618-228 H/833-842M)

Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)

Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)

Al-Musta’in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)

Al-Mu’taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)

Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)

Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)

Al-Mu’tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)

Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)

Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)

Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)

Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)

Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)

Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)

Al-Muthi’ Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)

Al-Tha`i’ Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)

Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)

Al-Qa`im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)

Al-Mu’tadi Bi Amrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)

Al-Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)

Al-Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)

Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)

Al-Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160 M)

Al-Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)

Al-Mustadli`u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)

Al-Naashir Lidinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)

Al-Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)

Al-Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)

Al-Musta’shim Billah (tahun 640-656 H/1242-1258 M)

Al-Mustanshir Billah II (tahun 660-661 H/1261-1262 M)

Al-Haakim Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M)

Al-Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)

Al-Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1343 M)

Al-Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)

Al-Mu’tadlid Billah I (753-763 H/1354-1364 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah I (th. 763-785 H/1364-1386 M)

Al-Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)

Al-Musta’shim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah II (th. 791-808 H/1392-1409 M)

Al-Musta’in Billah (tahun 808-815 H/1409-1416 M)

Al-Mu’tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416- 1446 M)

Al-Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)

Al-Qa`im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)

Al-Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah III (th 884-893 H/1485-1494 M)

Al-Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah IV (th 914-918 H/1515-1517 M)
Khilafah Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar (Mongol), sehingga umat Islam sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah. Namun kurun waktnya hanya terpaut 3 tahun setengah saja dan segera berdiri khilafah Utsmaniyah.

4. Khilafah Bani Utsmaniyyah

Khilafah Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad 10 Hijriyah atau abad ke enam belas Masehi. Nama-nama mereka sebagai berikut:

Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)

Sulaiman al-Qanuni (tahun 926-974 H/1520-1566 M)

Salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)

Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)

Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)

Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)

Mushthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)

‘Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)

Mushthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)

Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)

Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)

Muhammad IV (tahun 1058-1099 H/1648-1687 M)

Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691 M)

Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)

Mushthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)

Ahmad III (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)

Mahmud I (tahun 1143-1168 H/1730-1754 M)

‘Utsman III (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)

Musthafa III (tahun 1171-1187 H/1757-1774 M)

‘Abdul Hamid I (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)

Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)

Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)

Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)

‘Abdul Majid I (tahun 1255 H-1277 H/1839-1861 M)

‘Abdul ‘Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)

Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)

‘Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)

Muhammad Risyad V (tahun 1328-1338 H/1909-1918 M)

Muhammad Wahiddin (II) (th. 1338-1340 H/1918-1922 M)

‘Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M).

Khalifah terakhir umat Islam sedunia adalah ‘Abdul Majid II. Semenjak tumbangnya khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih dari selama (2006-1924= 82 tahun) tanpa keberadaan lembaga yang menyatukan.

Kepastian Kembalinya Khilafah

Lepas dari realitas di lapangan yang kurang menggembirakan, di mana umat Islam saat in menjadi budak barat, kekayaan alam mereka dijarah, ekonomi mereka terpuruk, nilai mata uang mereka sangat rendah, hutang luar negeri merekabertumpuk tak terbayar, pemuda mereka dirusak, wanita mereka menjadi hamba syahwat, bahkan masih ditambah lagi dengan rombongan Islam liberal dan sebagainya, namunmasih ada harapan.

Kita masih menemukan satu hadits dari Rasulullah SAW yang cukup melegakan, yaitu kabar gembira dari beliau bahwa suatu saat, khilafah ini akan kembali terbentuk, bahkan dengan kualitasnya yang rasyidah itu.

Sabda Rasulullah saw, “Kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi”.

Namun tentunya khilafah ini tidak akan terbentuk begitu saja, bila hanya dengan doa dan diam saja. Atau hanya dengan bicara dan demonstrasi saja. Setiap umat Islam meski bersinergi untuk saling menguatkan dan saling menyokong semua upaya untuk kembali kepada khilafah Islamiyah.

Sebab setiap elemen umat punya potensi yang mungkin tidak dimiliki oleh saudaranya. Maka seruan untuk kembali kepada khilafah seharusnya bukan sekedar lips service, namun harus diiringi dengan kerja nyata, pembinaan dan pengkaderan 1,5 milyar umat, pendirian lembaga pendidikan dan sekian banyak pos-pos penting umat. Lantas diiringi juga dengan kebesaran hati, keterbukaan sikap serta jiwa kepemimpinan dunia Islam yang mumpuni.

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat menyaksikan beridirnya khilafah Islamiyah semasa kita hidup. Sungguh sebuah kepuasan yang dimpikan oleh dunia Islam selama ini. Amien.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi warabaraktuh.

Sumber: Eramuslim

May 9, 2006

Kalo Ikhwan Nyari ‘Gebetan’

Filed under: Sirah

Ikhwan nyari gebetan? Gak salah nih? Eit, jangan su’udzon dulu ya. Meski panggilan ikhwan identik dengan cowok pengajian, mereka juga kan manusia. Sama seperti cowok laen. Punya rasa punya hati dan nggak punya antivirus merah jambu. Itu artinya, ikhwan juga bisa kepeleset jatuh hati ama pesona lawan jenisnya. Terutama pada kalangan cewek pengajian yang biasa dijuluki akhwat. Soalnya mereka kan beraktivitas pada dunia yang sama. Dunia dakwah gitu, lho. Wajar dongs!

Bedanya ama cowok laen, cowok pengajian mungkin lebih punya pertimbangan mateng untuk jatuh cintrong. Ciiee, sori bukan narsis lho. So, nyari gebetan di sini bukan berarti nyari gandengan yang bisa diajak kencan atau jalan berduaan. Tapi untuk diajak serius melabuhkan cintanya di jalan yang halal. Loving you, Merit yuk? Enak.. enak.. enak..!

Nah, kali ini kita mo ngorek informasi dari temen-temen ikhwan seputar komentar tentang Liga Champions, eh tentang akhwat idaman mereka. Informasi berharga nih. Penasaran? Yuk!

***

Akhwat Idaman di Mata Ikhwan

Ngobrolin soal akhwat nggak bisa lepas dari sikap, karakter, dan aktivitas dakwahnya yang dengan mudah tercium oleh ikhwan. Ada yang lincah kayak bola bekel, ada yang rame mirip Nirina Zubir, ada yang aktif banget sampe nggak terlalu mikirin penampilan yang seadanya, dan lain sebagainya. Pokoknya mah bervariasi banget deh. Tapi, seperti apa sih akhwat yang disukai ikhwan?

Seorang teman dari negeri jiran, Hadi, via FS (Friendster)-nya ngasih komentar : “… perempuan yang aku suka adalah sejuk mata memandang dek terlihat keluhuran akhlaknya menjadi sumber ketenangan jiwa bila hati bergelora.”

Kalo menurut ‘penkhianatyangtelahmusnah (pytm)’ dalam YM (Yahoo Messenger)-nya, “yang jelas ngaji. Masalah pendiem, kalem, jaim, rame itu mah selera. Rame asyik dibawa ngobrol. Kalem asik kayak punya bidadari yang bisa diapain. Hahaha…”

Lain lagi pendapat Zubair, mahasiswa ITB (Kimia) 2002, akhwat yang disukainya adalah yang…. “Pandai berkomunikasi dalam bentuk verbal, sehingga dengan modal dasar ini mudah-mudahan setiap masalah yang ada mampu dikomunikasikan dan diselesaikan dengan kepala dingin, bahkan jadi modal yang sangat cukup untuk dakwah.”

Gimana dengan akhwat yang agak agre. Maksute, akhwat yang punya inisiatif berjuang setengah hidup nyari info tentang ikhwan idamannya. Walau diam-diam, tapi aktif tanya sana-sini-situ. Mungkin udah ngebet kali ye ama ikhwan incarannya en takut keburu dicantol ama yang laen. Hehehe…

‘pytm’ dan ‘javanehese2000′ bilang saat chatting, akhwat agre bukan tipe yang disukainya. Lantaran khawatir timbul fitnah bin gosip yang nggak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka lebih suka yang kalem. Akhwat banget, gitu lho. Rada pendiem en bisa jaim di tempat umum. Mungkin tipe-tipe akhwat yang nunggu diajuin proposal ama ikhwan gitu deh. Kayak mo tujuh belasan pake ngajuin proposal? Hihihi…

Tapi bagi Zubair, akhwat agre adalah tipe kesukaannya. “… karena kalo orangnya terlalu pendiem, kita nggak tau secara persis keadaan dia kayak gimana, kalo agresif alias ekspresif kan enak tuh, kalo ada masalah ketahuan jadi mungkin kita bisa bantu tolong.” Dengan kata lain, doi nggak gitu nyetel ama akhwat yang kalem, “… soalnya kalo yang kalem susah ditebak isi hatinya.”

Oh ya, untuk tipe agresif meski nggak umum di kalangan akhwat, bukan berarti ‘cela’ lho. Karena Siti Khadijah pun termasuk yang ‘agresif’ hingga berani menawarkan diri kepada Muhammad bin Abdullah setelah terpikat oleh sifat dan karakter beliau.

Oke deh sobat, itu segelintir komentar temen-temen ikhwan tentang tipe akhwat yang disukainya. Yang pasti, mau yang agre ataupun kalem, semuanya sama baiknya selama shalehah. Tinggal pandai-pandainya kita aja mensikapinya. Dan yang nggak kalah pentingnya, akhwat yang bersangkutan suka juga ama kita. Biar nggak bertepuk sebelah tangan. Huehehe…

***

FBI = Female Bidikan Ikhwan

Sobat, dari komentar ikhwan-ikhwan tersebut pas ditanya soal akhwat idaman, mereka nangkepnya lagi ditanya soal sosok yang bakal jadi istrinya. Geer banget kan? Tapi wajar aja sih kalo kegeeran, itu kan gejala normal seorang jomblo. Padahal untuk calon istri, mungkin lebih khusus lagi kriterianya. Kayak gimana sih?

Menurut Anas, “Tipe yang Anas suka, tipe yang memang benar-benar pantas jadi istri. Simpel kan? Dia harus bisa jadi benteng pertama dari sisi apapun bagi anak-anaknya, karena (mungkin) tugas suami adalah mencari nafkah (cenderung keluar).”

Kalo pendapat Zubair, “… Sopan, cukup ekspresif, pandai komunikasi, wajah lumayan cantik, kulitnya putih kalo bisa enn sabar. Bahkan kalo ada sih yang ilmu keislamannya baik + akhlaknya baik, jadi bisa ngingetin kita kalo salah…”

Namun kini, kondisi yang meminta kehadiran wanita di dunia kerja tak bisa dihindari. Ada aja akhwat yang sudah kerja di kantoran, menjadi buruh pabrik, atau pengen kerja meski udah merit. Gimana dengan akhwat model gini?

Kalo buat pytm, “… pengennyah sih punya istri tuh di rumah ajah. Meski bisa dongkrak ekonomi dalam negeri, tapi tetep ajah amanah di rumah lebih gede. Boleh kerja tapi di sekitar rumah. Ga boleh jauh. Trus yang ringan. Jadi guru TK ato apalah…”

Sobat, sosok FBI alias female bidikan ikhwan sepertinya nggak harus punya kelebihan secara fisik, status sosial, suku, status pendidikan, atau dandanan. But, nggak berarti cuek banget, hanya saja bukan prioritas. Itu aja kok. Nggak lebih.

***

Syakhsiyahmu yang Kumau

Bagi bagi seorang ikhwan, mikir-mikir dulu kalo mau menominasikan lawan jenis yang cuma punya kelebihan di penampilan fisik sebagai idaman. Apa pasal?

Pertama, penampilan fisik itu sifatnya sementara. Bakal habis bin pudar dimakan usia atau bisa rusak karena musibah. Kalo kita matok rasa suka bin cinta cuma lantaran fisik, siap-siap aja kehilangan keindahan yang memikat kita itu. Nggak bener-bener cinta tuh kayaknya.

Kedua, lawan jenis yang diidamkan bukan cuma untuk mengisi ruang khayal semata, jadi bahan gosipan di antara teman, atau buat nemenin ke kondangan. Lebih dari itu, akhwat idaman berarti seseorang yang ditargetkan untuk menjadi istri, ibu dari anak-anak, mitra dakwah, sekaligus seorang sahabat dekat yang mengingatkan kala khilaf dan memompa semangat kita saat dirundung musibah. Semua peran itu dilahirkan dari pemahaman Islam dan kedewasaan dalam bersikap pada diri seorang akhwat, bukan dari penampilan fisik. Catet tuh!

Kondisi ini mengingatkan kita pada sebuah hadits : “Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalilah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatanmu, dirinya, dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.” (M. Fauzhil Adhim, ‘Kupinang Engkau dengan Hamdallah’).

Nah sobat, sepertinya kepribadian (syakhsiyah) seorang akhwat yang tercermin dalam caranya berpikir dan bersikap sesuai aturan Islam layak jadi ukuran standar bagi kaum Adam untuk memilih istri. Kalo emang bener mo ngebangun rumah tangga yang sakinah mawahdah, wa rohmah. Tapi bukan berarti kita ngelarang kamu pake pertimbangan fisik lho. Silahkan aja kalo mo pake standar ideal : cantik, kaya, shalehah, dan mau ama kita. Tapi kalo kriteria itu nggak ada, cukup asal mau ama kita, shalehah, kaya dan cantik. Yeee… itu mah sama aja atuh!

Ups! Maksute relakanlah predikat shalehah dari seorang wanita yang menerima cinta kita mengalahkan ego kita untuk dapetin yang cantik atau tajir. Yakin deh, selalu ada inner beauty dan kekayaan yang tak ternilai oleh materi pada diri seorang wanita shalehah (pengalaman nih ceritanya, huhuy!). Yes!

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tapi nikahilah wanita itu karena agamanya, sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak taat beragama).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

***

Jangan Egois Donk!

Allah SWT berfirman : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. an-Nûr [24] : 26).

Dari ayat itu, Allah emang Maha Adil. Dia menjanjikan wanita yang baik untuk pria yang baik pula. Sebagaimana layaknya Aisyah RA menjadi istri Nabi SAW. Pria yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Itu berarti kalo pengen dapetin akhwat yang shalehah, kita juga kudu shaleh dong. Jangan cuma mikirin keinginan diri sendiri. Nggak adil tuh. Mengidamkan akhwat yang baik tapi kitanya sendiri jeblok. Karena kaum hawa juga berhak mendapatkan tipe-tipe primus alias pria mushala yang shaleh. Tul nggak sih?

Makanya kita jangan egois. Kita juga punya kewajiban yang sama seperti kaum Hawa untuk memoles kepribadian dan menghiasinya dengan akhlak Islam. Percaya deh, syakhsiyah Islam akan membantu kita untuk lebih bijak dalam mensikapi hidup. Kita jadi punya standar untuk berbuat atau menilai suatu perbuatan. Termasuk dalam memilih istri. Nggak asal nunjuk. Trus, di mana kita bisa dapetin syakhsiyah Islamiyah?

Yang pasti, syakhsiyah Islam nggak dijual bebas di pinggiran jalan, klub malem, pub, atau diskotek. Tapi kita bisa dengan mudah dapetinnya di forum-forum pengajian. Yup, di tempat pengajian kita diperkenalkan lebih dalam dengan Islam dan aturan hidupnya yang sempurna dan cocok buat kita. Ini yang bisa menjadi benih tumbuhnya syakhsiyah Islamiyah. Perlu perawatan yang rutin dengan getol mengkaji Islam jika kita ingin pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan.

Dengan dibubuhi pupuk keikhlasan semata-mata ingin dapetin ridha Allah (bukan cuma pengen dapet calon istri shalehah.. ehm..), syaksiyah Islam akan mengantarkan kita pada predikat kemuliaan. Di hadapan manusia, dan yang menciptakan manusia. Bukankah ini yang kita harapkan?

So, jangan tunggu hari esok. Mari kita sama-sama menjadi bagian dari generasi anak ngaji (Ngaji Generation). Membentuk syakhsiyah pada diri kita dan menanamkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sekaligus memperkuat barisan perjuangan untuk memuliakan diri kita, Islam, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Moga-moga Allah masukin kita dalam daftar orang-orang yang berhak dapetin pasangan hidup yang shaleh/shalehah. Mau dong? Yuuuk! (Hafidz)[STUDIA-291/7/010506]
aselinya liat di sini

December 11, 2005

Gak Produktiv

Filed under: Umum, Sirah

waaaa….gak tau kenapa sekarang gak produktiv lagi
perusahaan 3
tapi yang jalan cuma satu
yah…gak tau deh
pengen teriak aja
waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

July 6, 2005

Siap menuju SP

Filed under: Sirah

Waduh….cukup lelah tapi asyik seh.
Ngurusin Semester Pendek yang mo aku ambil. Emang gak berat banget. Tapi yang jelas cukup membosankan.
Aku ambil Semester pendek dengan mata kuliah Matematika Kimia I dan Kimia Dasar I. Dan seandainya nilai ku A kedua mata kuliah tadi. Maka Insya Allah IP ku menjadi 3,05.
Ya Allah…Kabulkanlah tulisan ini menjadi kenyataan. Amiiin..






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer