Puisi Jiwa
KU tertawan rasa gelisah dan gundah
saat ku selalu mengingatmu
ku tertahan rasa takut untuk berkata
aku inginkanmu
ku terbawa arus rendah diri
saat mesti selalu mengenangmu
apalagi jika harus berhadapan denganmu
aku sungguh nyaris jadi tak berarti
ku sadarkan diri ini
bahwa aku bukanlah seburuk yang terlintas dikepalaku
tapi keadaan selalu berkata lain
bahwa lintasan itu ternyata ada
ku kembali mengumpulkan sisa-sisa angan dan ‘azzam
tuk kembali menyatakan bahwa aku tak boleh mati
mati akan rasa dan cita yang terpendam
karena kalah dengan keadaan
aku memang bukanlah seorang pangeran
tapi aku memiliki jiwa calon pangeran
jika tidak bisa sendiri ku menjadi pangeran
denganmu bukankah itu bisa diwujudkan?
aku menata kembali hati yang telah berkali terluka
menyusunnya menjadi alunan indah dalam jiwa
mengutarakan dalam gerak keyboard nan suara tak berirama
aku tuturkan dalam kata dan performa bahasa
izinkan aku utarakan, aku mencintaimu segenap dirimu
aku mencintai keagungan akhlak dan tarbiyahmu
aku mencintai cita dan visi dirimu
aku mencintai apa yang engkau cinta ; Rabbi ‘izzati!
in my room, 23;53 WIB
Untuk Bidadari yang aku tak kenal siapa kamu.
Sebenarnya ini udah lama banget, tapi baru sempat nge upload sekarang.

