Tangisan yang berbeda kemarin
Kemarin emang berbeda cuacanya dibanding hari ini, jika kemarin sering dilanda hujan, maka hari begitu terik.
Suasana diluar ruangan yang begitu panas membuatku memilih untuk bertahan didalam ruangan saja, sambil duduk termangu di depan komputer, ku coba memutar lagi memori kemarin sore yang begitu menyentuh bagiku.
Kemarin sore, sekitar 1000 Mahasiswa Universitas Andalas tumpah ruah di Auditorium unand untuk mengikuti Training ESQ. Training memang cukup menarik, tapi sayang trainer dan alumni banyak yang OMDO!!!.
Aku hadir disana sebagai peserta, mengikuti setiap rentak irama pembicaraan trainer yang diiringi musik dengan berbagai jenis aliran.
Hari menjelang sore saat beberapa peserta sudah mulai tampak menangis pada bab intropeksi diri, banyak peserta yang sudah meninggalkan rasa malu kepada kawan sebelahnya, isakan, suara takbir begitu menggema di tengah acara ESQ Training angkatan I.
Menangis, ya semua menangis, alumni dan peserta sebagian besarnya menangis, begitu juga aku. Tangisan itu bermula saat trainer bertanya, orang tuamu ataukah Allah yang lebih engkau cintai? di iringi musik trainer mengucapkan betapa besarnya nikmat Allah kepada kita, sering kita meminta ditambahkan rezki, minta diberikan ini dan itu, tapi pernahkah kita meminta cintanya Allah?
Semua lalu tersungkur menangis, aku tidak meski aku juga menangis, sungguh sore itu aku menangis. Tapi tangis bukan seperti yang di ucapkan oleh trainer, tapi aku menangis saat aku menyadari bahwa begitu mudahnya takbir bergema disini, begitu mudahnya acara yang bernuansa islami mengalir disini.
Jika aku membandingkan dengan OSPEK angkatanku, sungguh sangat jauh berbeda, OSPEK angkatanku untuk sholat saja susah, selalu telat jika tak pernah meninggalkannya. TApi hari, OSPEK di kampus malah mengadakan training ESQ.
Sungguh, aku bener2 terharu dan bisa berkata saat itu, begitu besar nikmat Allah, begitu tepat janjinya Allah, bahwa panji-panji Allah tetap akan jaya. Ada atau tanpa kita, disana aku menyadari bahwa sebenarnya peranku kecil, bahkan nyaris tak berarti jika dibandingkan dengan pesatnya perkembangan dakwah di sini.
Tapi dengan peran yang kecil itu perkembangan dakwah begitu pesat, gundah di jiwa menghasilkan satu keputusan padaku ; sesungguhnya bukan islam yang butuh kepada kita, tapi kitalah yang butuh islam. ya kitalah yang membutuhkan islam!!!

