Hanya untuk kamu!
Namanya saja aku tak tau, untuk wajahnya baru 2 atau 3 kali aku melihatnya.
Itu juga dari foto, di dunia maya lagi.
kalo sekarang aku ditanya, coba tunjukan yang mana bidadari itu, aku tak tau menjawabnya.
Bukan karena aku sombong, tapi karena aku merasa tak pantas untuk mengingat bidadari itu.
Meski dengan keterbatasan dalam ta’aruf itu tak membuatku segan untuk menyapanya ketika ku lihat icon onlinenya.
Ya, bukan karena aku lancang, tapi karena memang dia selalu ramah dalam banyak hal.
Dia memang tidak ada setiap saat, tapi setidaknya dia ada pada waktu yang tepat.
Hari ini aku agak gelisah, gak tau deh kenapa.
Ku mencoba untuk online, mencari kawan-kawan untuk berbagi. Tapi aku tak menemukannya.
Kecuali manusia satu ini, mantan ketua keputrian di salah satu kampus di bandung.
Mesti dengan jarak ni, ku merasa ada saudara yang menjadi kawan inspirasi ku.
Ah, kata terakhir ini emang selalu kucari dengan berbagai hal.
Rie, panggilan itu yang selalu aku sebut saat menyapanya, sisanya riana, tapi jarang.
dia memang gak terlalu jelas bagiku, tapi cukup menjadi sahabatku…
Dengannya aku telah bercerita banyak hal, dari ummat sampai “calon ummahat”.
dia tau tipe bidadariku, dia juga tau beberapa hal tentang ku, tapi aku tak pernah tau lebih dari info sekedarnya.
Sudikah engkau yang bidadari menjadi sahabat bagi punggawa ini?
(ku tulis ini saat masih chat dengan manusia mulia ini, akang akan doakan yang terbaik buatmu rie)

