PASANGAN Adang Daradjatun-Dani Anwar memang kalah dalam pemilihan Gubernur Jakarta. Tetapi, pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah ‘memenangi’ demokrasi yang tengah bertumbuh di negeri ini. Mereka kalah amat terhormat. Mereka kalah dengan jiwa besar.
Menurut penghitungan cepat (quick count) Lembaga Survei Indonesia (LSI), Fauzi Bowo-Prijanto memperoleh 56,12% suara, Adang-Dani mengantongi 43,88% suara. Sebuah perolehan suara yang sungguh amat mengejutkan. Sebab, sebelumnya berbagai lembaga survei memprediksi jago PKS itu hanya akan memperoleh suara di bawah 27%.
Kekalahan tetaplah kecundang. Tetapi, jangan lupa, Adang-Dani hanya diusung satu partai, sedangkan Fauzi Bowo-Prijanto diusung 20 partai. Perolehan di atas 40% bagi Adang-Dani memperlihatkan betapa berlipatnya suara yang mereka dulang. Ini membuktikan pula betapa berharganya kedua tokoh ini bagi PKS dalam pengumpulan suara di Ibu Kota.
Tetapi, yang menjadi indah bagi demokrasi yang tengah bertumbuh di Indonesia adalah Adang-Dani dan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKS DKI Jakarta Triwisaksana selekasnya mengakui kekalahan itu. Mereka langsung pula mengucapkan selamat kepada sang pemenang: Fauzi-Prijanto. Padahal, Komisi Pemilihan Umum Jakarta secara resmi belum mengumumkan siapa pemenangnya.
Mereka yakin, perolehan suara itulah angka maksimal. Karena berdasarkan tim pemantau PKS yang tersebar di berbagai tempat pemungutan suara (TPS), perolehan suara Adang-Dani berkisar angka yang dirilis LSI itu. Menerima kekalahan dengan dada lapang, tanpa membuat rupa-rupa alasan dan kambing hitam, terasa menyejukkan. Secara jernih pula PKS menyatakan tidak akan menjadi oposisi, melainkan tetap mendukung Fauzi-Prijanto dengan sikap kritis dan konstruktif.
Sementara itu, di pihak partai yang mengusung Fauzi-Prijanto, sebagai rasa hormat, mereka juga akan segera menggelar silaturahmi dengan PKS. Pihak Fauzi juga berharap apa yang diperlihatkan para elite Jakarta dalam pilkada bisa berimbas kepada akar rumput.
Demokrasi yang tengah bertumbuh, dan masih bopeng di sana-sini, memang perlu banyak keteladanan, khususnya dari para elite. Keteladanan hanya bisa muncul dari sikap dewasa dan rasa hormat kepada sebuah proses.
Bahwa kompetisi kekuasaan selalu memiliki tujuan utama kemenangan, ini sudahlah pasti. Tetapi, kemenangan akan menjadi lebih sempurna jika diraih dengan cara yang elok, yang tidak hanya mengikuti seluruh prosedur dan aturan main, namun juga penuh rasa hormat terhadap seluruh unsur yang terlibat kompetisi.
Pilkada Jakarta memang seharusnya menjadi contoh, tidak hanya di berbagai wilayah lain, tetapi juga bagi para elite nasional. Pemilihan Presiden pada 2004 yang dimenangi pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla memang sukses besar sebagai pemilihan presiden pertama kali. Tetapi, ia masih menyisakan persoalan, yakni belum pulihnya hubungan personal antara mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dengan bekas dua pembantunya yang memenangi pemilu itu.
Demokrasi perlu banyak prasyarat. Ia perlu orang-orang terdidik yang punya rasa hormat terhadap perbedaan. Demokrasi perlu pula orang-orang yang berjiwa besar untuk menerima kekalahan, juga pandai mengelola kemenangan.
Pilkada Jakarta yang telah berlangsung indah, haruslah pula berimplikasi kepada hasil yang maksimal. Artinya, kemenangan Fauzi-Prijanto baru benar-benar punya arti jika bisa menjawab berbagai problem Ibu Kota: transportasi yang kian semrawut, banjir yang jadi langganan, kriminalitas yang meninggi, dan jurang kaya-miskin yang kian menganga. Selamat bekerja bagi Fauzi-Prijanto. Terima kasih Adang-Dani.
***
Itu adalah editorial dari media indonesia yang saya kopikan ke blog tercinta ini. Dan itulah memang tampilan adang-dani didepan banyak media. Pernyataan siap menang dan siap kalahnya dibuktikan langsung, dan ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari berbagai pihak.
Jika kita melihat di Depok, ketika PKS menang, PKS di gugat. Ketika di DKI PKS kalah, PKS legowo.

Pak adang darajatun, andainya anda adalah kader PKS, ikut liqo’, ngisi liqo’, daurah dan lainnya. Akan saya panggil anda ustadz.