Menganalisa PILKADA DKI Jakarta.
Suara Fauzi Bowo sudah tidak akan mungkin terkejar lagi oleh Adang Darajatun, PILKADA DKI Jakarta sudah memasuki babak menentukan siapa menang siapa kalah. Untuk secara kasat mata kita akan melihat bahwa PKS dan calonnya dinyatakan kalah, dan Fauzi Bowo serta Koalisi “20 PARPOL” Jakartanya menang.
Tapi, untuk saat ini izinkan saya untuk memberikan analisa berbagai hal terkait PILKADA DKI Jakarta yang menjadi barometer politik Nasional.
***
PKS dan calonnya.
Partai Keadilan Sejahtera adalah partai yang mendapatkan suara pada PEMILU 2004 untuk daerah DKI Jakarta sebesar 24 % atau sekitar 1 juta suara. Suara itu juga yang mengantarkan PKS menguasai DPRD DKI Jakarta. Suara itu juga menjadikan PKS sebagai partai nomor urut satu untuk PEMILU 2004 di Jakarta.
Pada PILKADA DKI ini, PKS melalui calonnya Adang-Dani mendapatkan suara sebesar 1.500.000 atau sekitar 24 %, artinya suara PKS naik 500ribu suara atau naik sekitar 20 % dari suara sebelumnya.
Ini adalah prestasi yang luar biasa, PKS yang dikeroyok oleh 20 parpol bukannya jatuh tersungkur tapi malah tegak naik meninggi. Kenaikan suara ini memang patut untuk diwaspadai oleh semua parpol.
Jika kita menggunakan hitung-hitungan logika matematika, PKS yang kita tetapkan untuk mendapatkan suara pada PEMILU 2009 sejumlah yang sama, sedangkan 20 parpol tadi telah terpecah dan mengambil jatahnya sendiri, maka bisa dipastikan bahwa PKS semakin menguatkan posisinya sebagai partai terkuat di Jakarta. Karena jika koalisi Jakarta yang mengusung Fauzi Bowo telah pecah, maka suara 56 % itu akan dipecah lagi menjadi beberapa bagian, setidaknya akan dibagi untuk parpol yang lulus electoral treshold.
Memang ada sebagian pengamat yang mengatakan bahwa kenaikan 20 % suara PKS melalui calonnya di PILKADA DKI bukanlah milik PKS, tapi bisa dipastikan untuk 2009 itu bisa milik PKS karena pernyataan Adang yang akan tetap pada barisan PKS. Pernyataan Adang ini dilontarkan pada pers disaat hari pemilihan di Jakarta ; 8 Agustus lalu. Jika kenaikan itu adalah milik Adang secara personal.
PILKADA ini juga kembali membenarkan pernyataan para tokoh PKS bahwa PKS adalah partai kader, partai ini juga mengaku memiliki kader terbina dan militan, itu dapat dilihat jernih di PILKADA ini. Lihat saja, kenaikan suara PKS ini memang tidak lepas dari peran kadernya dilapangan, PILKADA kali ini, PKS hanya sendiri, akan tetapi dana yang didapat untuk kampanye hanya berselisih lebih kurang satu milyar dengan Fauzi Bowo yang diusung oleh 20 parpol, artinya kekuatan kader PKS Jakarta nyaris dapat menyamai kekuatan seluruh kader di 20 parpol tadi dalam hal perekonomian. Kenyataan ini juga membuktikan bahwa PKS memang memiliki kader yang militan, sehingga hasil exit pool Lingkar Survei Indonesia (LSI) yang mengatakan bahwa 17,2 % suara PKS lari ke koalisi Jakarta adalah salah besar.
Sedangkan dari sisi militansi kerja lapangan, Adang-Dani yang hanya berselisih lebih kurang 15 % dengan Fauzi bowo adalah sebuah prestasi besar, ketika kader PKS harus berhadapan dengan 20 macam bendera partai politik, mereka justru dapat meningkatkan suara partainya melalui Adang-Dani.
Sehingga untuk saat ini saya dapat menarik kesimpulan bahwa Fauzi dan PKS menang, dan hanya koalisi Jakarta lah yang kalah.
(bersambung…)

