..::My Diary is My Best Friend::..

July 7, 2007

Semua jenis tawa, ada disini bung!

Filed under: Umum, Luapan Jiwa

Hehehe…
aku gak tau harus memulai dari mana
yang jelas malam ini aku mencari di google, blog yang berisikan tentang cinta.
aku akan masukan ke blog ini jika memang sesuai kriteria.
hihi…
ada yang lucu
ada yang mengharukan
ada yang happy ending
ada juga yang sedih
pokoknya komplet soal cintanya…

Pengakuan dan pesan para ikhwan untuk para akhwat

Filed under: Umum, Luapan Jiwa

1. Kami sulit menahan pandangan mata ketika melihat kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan ALLAH kecantikan dan postur yang ideal, kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian, karena itu lebarkanlah pakaian kalian, dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian para akhwat dengan kerudung yang membentang.

2. Kami juga sulit menahan pendengaran kamiketika berbicara dengan kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan oleh ALLAH suara yang merdudengan irama yang mendayu, karena itu tegaskanlah suara kalian, dan berbicaralah seperlunya

3. Kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati kalian para akhwat, ketika kalian dapat menjadi tempat mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian

4. Kami juga ingin terus dekat dengan kalian para akhwat, tapi maaf bukan karena apa-apa tapi lebih karena dorongan “itu”, kata dokter sih ada hubungannya dengan hasrat kami, makannya kami selalu mencari cara agar bias untuk terus dekat dengan kalian, apakah itu dengan telefon, sms, chatting, bertemu muka, apalagi klo kalian mau menjadi pacar kami(ehm….ehm…) minimal kami bias berpegangan tangan dengan kalian, karena itu pertama nasehatilah kami akan azab allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami.

***
Dari IPB

Bunda, aku ingin menikah

Filed under: Luapan Jiwa

Seketika mata tua itu berbinar senang seraya menatap anak laki-lakinya. Terlintas di pikirannya, gubuk kecil ini akan penuh dengan limpahan kebahagiaan. Ditemankan seorang gadis cantik yang kelak menjadi menantunya, hingga terbayang pula celoteh, canda dan tawa cucu-cucu yang memenuhi setiap sudut rumah.

Ditatapnya kembali pemuda tanggung yang berdiri dengan gagah di depannya. Ia telah tumbuh besar, bukan lagi bocah kecil yang dulu sering dijewer telinganya saat nakal. Tak pula sepotong kue yang disodorkan akan membuatnya menghentikan tangisan.

Bocah ingusan itu telah dewasa, bahkan terlihat lebih dewasa dari usianya. Sorot matanya tajam laksana elang, rahang kukuh dan ditumbuhi cambang, serta tubuh yang tegap bagaikan prajurit yang tak sabar menanti genderang perang ditabuhkan.

Seakan tak percaya pada sekian waktu yang telah berlalu, tangan yang telah keriput dimakan usia itu bergerak perlahan menyentuh wajah di hadapannya. Lalu dielusnya dengan lembut, penuh dengan selaksa cinta. Paras wajahnya mewarisi ketampanan asy Syahid, suaminya tercinta.

Ia memang telah dewasa dan saatnya telah tiba untuk menikah, hati kecilnya bergumam bahagia.

*****

Sepekan pun berlalu dalam guliran usia dan waktu. Seiring itu pula, alunan bacaan al Qur‘an semakin terdengar merdu dan syahdu. Hampir setiap saat, lelaki itu selalu bersama mush-haf al Qur‘an kecil yang tak pernah jauh dari sisinya. Menjelang saat pernikahan, ia memang semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ibadah wajib bahkan sunnat pun tampak semakin khusyuk dilakukan.

Saat ini, pemuda itu kembali berdiri di hadapan ibunda tercinta. Ia semakin tampan, wajahnya tampak bercahaya, gagah walaupun tanpa mengenakan pakaian pesta seperti layaknya mempelai yang akan menikah. Ia tersenyum, sedikit menganggukkan kepala lalu memeluk dengan penuh kasih sayang wanita yang melahirkannya. Pelukannya lambat laun semakin erat, bagaikan sebuah salam perpisahan.

Ibunda pun menangis, isakannya terdengar saling memburu dan membasahi kafeyah. Mata hatinya sebagai seorang ibu, telah menerka makna pernikahan sesungguhnya yang diinginkan buah hati tercinta. Sekelebat kebahagiaan yang terlintas beberapa hari lalu di pikirannya, semata-mata hanyalah pelipur lara bagi fitrahnya sebagai seorang ibunda.

Pemuda yang lahir dari rahimnya, dibuai dan telah dibesarkan ini bukanlah miliknya, tapi milik zamannya. Kini anak panah itu telah siap meluncur dari busur, pedang siap terayun menebas musuh, butir peluru pun siap ditembakkan dan melaju.

Untaian do‘a, baluran cinta dan alunan senandung jihad yang senantiasa menemani lelap tidur anaknya telah menjelma dalam setiap helaan nafas dan butiran darah. Hidup bagi seorang laki-laki sejati di bumi al Aqsa hanyalah perjuangan yang tak pernah padam, mengusir zionis jahanam, laknatuLlah.

Dilepaskannya kepergian buah hati tercinta dengan ikhlas, penuh keredhaan dan iringan do‘a. Tak ada lagi tangis, apalagi sedu sedan dari sudut mata tuanya. Hanya tatapan kasih sayang dan senyum kebanggaan.

Sang pemuda melangkah dengan penuh keyakinan menuju gerbang pernikahan yang dihiasi mahligai cinta. Mahar yang akan diberikan pun telah siap di balik baju, melilit sekujur tubuh.

*****

Malam itu, hanya sepenggal bulan bergelayut di awan. Angin berhembus lirih, burung malam pun enggan bersenda gurau. Senyap dan kelam membalut kesunyian.

Pecah…
Menggelegar membelah angkasa. Lalu tanah pun merekah oleh suara-suara tapak sepatu bot dan deru mesin pembunuh. Mereka bergerak menuju semburat titik api yang memancar dari Jalur Gaza. Kata makian dan sumpah serapah berhamburan, meracau tak karuan. Wajah-wajah itu berang, marah dan menyeringai bagaikan srigala yang mulutnya masih berlumuran darah.

Sisa kebisingan itu menelisik dari celah-celah dinding, menyapa seorang perempuan yang baru saja selesai menunaikan sholat malamnya di sebuah gubuk tua. Ia tersenyum, lalu diambilnya sebuah mush-haf kecil, dan didekapnya dengan selimut kasih sayang. Lembut dibelainya, bagaikan membelai syuhada saat masih bocah. Ia bernyanyi kecil dengan senandung jihad, seraya beringsut menuju sebuah kamar.

Perlahan dikuaknya daun pintu kayu agar buah hati tercinta tidak terjaga dari tidur. Dengan kasih sayang lalu diletakkannya di pembaringan, dan ia pun beranjak keluar.

Semerbak…
Bau wangi menyeruak dan merebak dari kamar syuhada, harum bagaikan khas keharuman sebuah kamar mempelai yang akan mereguk cinta di malam pertama.

WaLlahua‘lam bi shawab.

Author: Ferry Hadary
(Sebuah persembahan cinta untuk para syuhada)

dari blog tetangga

Pinjamkan aku ya Rabbi

Filed under: Umum

Wahai Yang Maha Pecinta…
Pinjamkan aku seorang bidadari yang dengannya aku menjadi pribadi yang lebih baik
Pinjamkan cinta yang dengannya aku berharap menjadi seorang suami seperti Ali bin Abi Thalib, atau Umar, atau Rasulullah sekalipun.
Pinjamkan aku kasih sayang seorang “penyantun jiwa” yang dengannya aku bisa terarahkan selalu kejalan yang memang Engkau ridha terhadap hal itu.
Pinjamkan aku kekasih yang dengannya aku mengobati hati nan lara ini.
Pinjamkan aku seorang istri yang dengannya aku bisa mencetak banyak kader dakwah yang mujahid di Jalan Mu.
Pinjamkan aku seorang penerang jiwa yang dengannya aku tak selalu merasa gelap terhadap dunia ini.

Wahai Yang Maha Mencintai Keindahan…
Berikan aku kekasih yang dengannya akan aku ciptakan keluarga yang Engkau akan meridhoinya sampai keturunanku.
Berikan aku partner dalam hidup ini yang kesuburannya menyerupai khansa, yang militansinya seperti khadijah, yang cantik dan cerdasnya seperti aisyah.

Ya RAbbi…
Jika memang tidak ada wanita seperti itu didunia ini yang masih sendiri, maka izinkanlah aku membentuknya di dalam mahligai rumah tangga.
Mudah-mudahan dengan izin Mu akan kujadikan dia sebagai Khansa, Sebagai Khadijah, sebagai Fatimah, Sebagai Aisyah, dan Setidaknya dia memiliki beberapa ciri wanita sholehah.
Amin

Salahkah kriteria itu?

Filed under: Umum

Beberapa hari yang lalu seorang kawan menanyakan kesiapanku untuk menggenapkan dien ini. Dia bukannya mengajukan dirinya untuk ke sana, tapi dia mengajukan seorang sahabatnya yang tak kukenal sama sekali.
Kawanku tadi menyebut ini sebagai proyek “penyelematan generasi peradaban”, bagiku sendiri, apapun namanya, ini menuntut sebuah keputusan yang penuh pertimbangan lahir dan bathin.
Email yang kuterima darinya ber intikan hal diatas, ku jawab dengan jawaban yang kupikir pantas untuk dijawab oleh setiap orang yang ditanyakan kesiapannya untuk menikah.
Ku jawab dengan kriteria istri yang aku dambakan, lantas beberapa hari setelah itu, kawanku tadi langsung memberikan sms yang sangat panjang yang berisi kecaman, rasa sedihnya berikut rasa marahnya atas sikap yang menetapkan kriteria untuk menjadi istriku.
Bahkan di sms tersebut dia menuliskan “sungguh ini tidak adil”…
Sejenak ku mulai berpikir saat itu, apa yang salah dari email ku yang dahulu, kawanku mengajukan seorang akhwat yang aku tidak tau bagaimana latar belakangnya lalu aku jawab dengan keinginanku untuk mempersunting akhwat dengan kriteria ku sendiri.
***
Hari ini, begitu banyak akhwat yang menuntut agar para ikhwan lebih dewasa untuk bersikap dalam hal nikah, mereka menuntut agar ikhwan bersedia untuk menikahi akhwat dengan tanpa kriteria. Lalu, dengan semangat untuk menyelamatkan generasi peradaban tadi, akhwat mengajukan diri tanpa syarat yang mesti dipatuhi oleh kaum ikhwan.
pertanyaannya, apakah ini yang dinamakan keadilan? ketika akhwat menuntut para ikhwan menikah dengan akhwat tanpa syarat, tanpa syarat!
Lalu, disisi lain, para ikhwan juga menuntut calon istrinya harus memenuhi kriteria istri yang di inginkan. Harus sesuai, setidaknya 70 % dari kriteria yang diajukan.
Jika perseteruan “abstrak” ini tetap dilanjutkan, maka hanya akan timbul rasa kekecawaan yang mendalam dari dua kubu ini. Untuk itu, mestilah ada solusi konkret untuk menyelesaikan hal itu.
solusi untuk akhwat :
Jika ukhti akan membeli sepatu yang akan dipakai setiap ukhti akan kekampus, yang dengannya ukhti berharap sepatu itu dapat mengarungi ukhti terus selama berada dikampus, artinya sepatu tersebut tahan lama, bagus, menarik dan dapat membantu kaki ukhti terhindar dari hal yang tidak di inginkan. Pertanyaannya, apakah ukhti akan asal pilih untuk sepatu itu? Tentulah ukhti akan menerapkan kriteria yang tepat untuk sepatu itu. Harus cocok dengan kaki, berwarna cocok dengan kulit dan lingkungan, kuat dan kriteria lainnya.
Jika kita ibaratkan dalam memilih pasangan, tentulah memilih pasangan haruslah dipilih yang sesuai kriteria. Karena tidak mungkin akan asal pilih untuk mencari pasangan. Sangat tidak mungkin dan tidak logis.
Nah, ketika para ikhwan mengajukan kriteria untuk Sang Istri tercinta, itu adalah hal yang wajar, justru tidak wajar ketika ikhwan akan menikah dengan akhwat yang tanpa syarat tadi.
lalu, solusinya, setiap akhwat mestilah selalu memenuhi dirinya dengan kriteria umum yang dinginkan oleh para ikhwan, meskipun ini bukanlah tujuan utama kita untuk merubah diri.
Secara umum, para ikhwan mencari sosok istri seperti :
Tarbiyah tentunya
Aktiv di lembaga dakwah ataupun lembaga yang menjalankan roda dakwah
Berpenampilan rapi dan menarik
hanya itu standar umum para ikhwan.
Tapi juga ada beberapa tambahan seperti :
Mesti orang kaderisasi
Ahlus Syura
Mantan ketua keputrian
inginkan suku tertentu
atau yang lainnya yang pada dasarnya itu bersifat sekunder setelah 4 hal yang ditentukan oleh Rasulullah SAW.

Solusi untuk kaum ikhwan :
Jika dibuat perbandingan, maka ikhwan lebih sedikit dari pada akhwat. Maka jika para ikhwan tidak memiliki mental dewasa untuk menikah, wajar saja para akhwat kecewa dengan ikhwan yang ada dengan tambahan pernyataan bahwa ikhwan banyak yang tidak berkualitas.
Adalah tidak wajar juga ketika mengajukan syarat yang begitu berat, yang pada dasarnya jika itu hanya untuk kesenangan duniawi.
Jika bukan hal mendasar, lebih mendahului menikah dari pada terlambat, lalu jangan sampai ketika niat mendahulukan ini tercorengi dengan sikap kurang bijaksana.
Jika antum tidak berbuat cepat, maka akan banyak akhwat yang akan terzolimi. Mesti cepat, inilah proyek penyelamatan generasi peradaban (ana pinjam istilahnya ukhti).
***
Meskipun ini hanyalah tumpahan pikiran dan hati yang tak beraturan, mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan kawan-kawan semuanya. Kesimpulannya, kriteria itu gak salah koq!
Tapi, aku juga ingin nikah neh. Doakan ya semoga mendapatkan yang terbaik yang sesuai dengan kehendak hati….






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer