Semangat Dakwah Jamaah = Semangat dakwah fardhiyah
Pada suatu syura di fakultasku malam itu, kami membahas banyak hal tentang kader, tentang perkembangan dakwah yang hanya melibatkan ikhwan tentunya. Karena pembahasan tentang akhwat bukanlah kerjaan kami, akhwatlah pembahasnya.
Malam itu, ada empat dari enam yang hadir, pembahasan yang cukup memakan waktu, 3 jam lebih. Sampai akhirnya satu pembahasan yang membuatku tercengang. Pembahasan tentang kondisi kader yang ternyata sangat sedikit memiliki binaan, kalaupun ada, itupun berserakan tak beraturan.
Padahal jika dilihat pada dakwah secara jamaah, banyak agenda wajihah yang di kuasai oleh kader terlaksana, kerap rapat-rapat internal berjalan mulus, tapi itu tidak beriringan dengan semangat dakwah fardhiyah. Semangat kader mengelola dakwah jamaah terlalu tinggi yang tidak tawazun dengan semangat dakwah fardhiyahnya.
Banyak kader yang senang datang rapat, banyak kader yang senang menjalankan amanahnya di BEM misalnya. Tapi nyaris tak ada kader yang memiliki semangat yang sama untuk mencari binaan, dan kalaupun ada binaan tapi sembarangan mengelolanya.
Beberapa waktu lalu aku bertanya pada ustadzku tentang kondisi ini. Ustadzku menjawab dengan jawaban yang aku tak setuju dengannya secara keseluruhan.
Ustadzku menjawab : setiap orang memiliki potensi masing-masing, ada diantara mereka yang bisa melaksanakan dakwah formal/jamaah, ada diantara mereka yang hanya bisa melakukan pembinaan kader, dan jarang diantara mereka yang amanah jamaahnya bagus dan dakwah fardhiyahnya juga lancar.
Memang untuk kata-kata diatas aku sepakat. Tapi bukankah kita adalah generasi yang memiliki potensi itu?. Mustahil rasanya ketika seorang kader yang memiliki halaqah binaan tapi tidak bisa manajemen dakwah formal/jamaah. Juga mustahil kiranya ketika seorang kader yang memiliki banyak amanah jamaah tapi dakwah fardhiyahnya tidak berjalan. Jika itu terjadi, berarti secara umum bisa kita katakan bahwa pemahaman dakwah di banyak kader kita bermasalah, ternyata banyak diantara kader kita baru parsial dalam memahami dakwah.
Bercermin pada banyak sahabat Rasulullah SAW,para sahabat RA, melaksanakan amanah jamaah/formal, sebagai khalifah mungkin, sebagai gubernur mungkin, tapi tidak membuat mereka berhenti melaksanakan dakwah fardhiyah. Karena dimanapun kita, kemanapun kita, apapun posisi kita, yang namanya dakwah fardhiyah meski kita laksanakan, yang namanya membina kader itu adalah keniscayaan.
Majunya jamaah kita ini, menapak terus kedepannya gerakan dakwah ini karena kesungguhan pendahulu kita dalam melakukan dakwah fardhiyah, kesungguhan mereka untuk membina kader sebanyak-banyaknya. Bahkan ketika itu mereka tidak hanya mencari dan membina kader, tapi mereka mesti melaksanakan amanah jamaah juga.
Hari ini, ketika kader telah ”tampak” banyak, jangan sampai kita tertipu atas kemenangan semu itu, kemenangan sesungguhnya bagi jamaah dakwah ini menurutku adalah ketika kadernya hidup dengan kemuliaan bersama Islam, dan mati sebagai pembela Islam. Terserah apakah ketika itu Islam telah menjadi penguasa dunia ataupun belum.
Jika pendahulu kita mesti mencari-cari binaan, tapi hari ini sesungguhnya banyak masyarakat, banyak pemuda, pelajar dan mahasiswa yang ingin di bina. Mereka ingin memiliki karakter yang mereka lihat pada diri kader-kader dakwah ini. Lantas apakah keinginan mereka untuk melaksanakan ini tidak kita sambut dengan baik? Apakah kita akan membiarkan semangat mereka yang tinggi akan hilang bersamaan dengan lamanya waktu mereka menunggu untuk di tarbiyah.
Wahai kader dakwah, jika orang yang mendapat hidayah melalui tangan kalian, maka itu lebih baik dari dunia dan se isinya, itu lebih baik dari unta merah.
Jika memang kita adalah perindu surga Allah, jika kita memang ingin masuk Jannah Nya, janganlah masuk ke sana sendirian, surga terlalu luas hanya untuk aku, antum.
Aku teringat ungakapan ustadzku tentang ini. Jika seseorang yang mendapatkan hidayah dari tangan antum, dan orang itu ternyata menjadi kader yang militan yang kemudian syahid. Apakah antum tidak senang? Mungkin ketika di akhirat nanti orang itu akan memberi syafaat kepada antum, karena syuhada punya hak untuk itu.
Jika tidak antum rebut mereka para mad’u, maka bisa jadi dunia kemaksiatanlah yang merebut mereka.

