Mahasiswa Sumbar dan Kondisinya hari ini
Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Dipersimpangan jalan
Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Dilembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun kejalan
Demi mempersembarkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta
(totalitas perjuangan)***
Dua kampus besar di Sumatera Barat memang sedang melangsungkan pesta demokrasi, pesta yang mencerminkan pendewasaan politik di lembaga pendidikan nasional. Perhelatan politik yang bernama pemilihan Presiden mahasiswa memang sedang heboh-hebohnya di Sumatera Barat. Jika Universitas Andalas telah berhasil melangsungkan pesta demokrasi itu, maka selasa depan (5/6/07) Universitas Negeri Padang dan Institut Agama Islam negeri Imam Bonjol yang akan melakukannya.
Tanggal 8 mei 2007 lalu, Universitas Andalas telah mendapatkan seorang Presiden Mahasiswa baru, Khalid namanya. Dengan sedikit riak demokrasi, Khalid melangkah ke istana Negara mahasiswa Universitas Andalas, PKM lantai II.
Pada tanggal Khalid memenangkan Pemilihan Umum Raya Keluarga Mahassiswa(PEMIRA KM) di kampus hijau itu, memang ada sedikit penolakan terhadap adanya PEMIRA oleh sebagian mahasiswa, penentangan dan kesepakatan adalah ciri khas demokrasi, dan penyikapanlah yang membedakan level intelektual. Penolakan memang terjadi, tapi tidak sampai tataran anarkis, sebagian mahasiswa FISIP dengan Presiden FISIP UNAND menyatakan menolak PEMIRA KM UNAND di fakultasnya. Lantas itu tidak membuat terjadinya “penyatuan fisik” pada dua pihak berbeda, permasalahan selesai tatkala dialog diselesaikan.
Berbeda halnya dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang. Meski berlabelkan Islam, agaknya pendewasaan sikap demokrasi kurang berlangsung disini. Semestinya Pemilihan Presiden Mahasiswa IAIN berlangsung pada kamis minggu lalu (31/5/07), diundur menjadi Selasa (5/07/07) karena terjadi penolakan PEMIRA yang agak anarkis. Kampus IAIN memang yang paling berbeda kondisi politiknya dibanding kampus lain di SUMBAR. Jika UNP dan UNAND menerapkan sistem PEMIRA tanpa kendaraan politik untuk memajukan calon Presiden, IAIN memiliki kendaraan politik yang bernama Partai Politik. Nyaris sama dengan sistem PILPRES di Indonesia, setiap calon Presiden mahasiswa mesti memiliki Partai Politik untuk duduk di kursi mahasiswa satu (M-1).
Ada 5 partai politik yang mewarnai kampus IAIN, dan kasus penolakan terjadi karena 4 dari 5 parpol tersebut menarik semua calon anggota legislative dan calon Presidennya pada hari H pemilihan. Lantas dengan alasan ini 4 parpol tersebut menolak PEMIRA karena hanya di ikuti oleh satu orang peserta, yakni satu partai ; Partai Pergerakan Mahasiswa.
Alasan ini memang logis, hal ini jugalah yang membuat ketegangan diantara panitia yang bersikeras untuk melanjutkan PEMIRA, dan berujung pada anarkis kecil di IAIN. Penyelesaianpun melibatkan pihak birokrat kampus, dengan kesepakatan bersama, PEMIRA di undur pada selasa depannya.
Lalu, apakah kamis kelabu di IAIN akan terjadi lagi pada selasanya?. Kita simak saja perkembangan informasi dari IAIN atas pesta demokrasinya.
UNP
Universitas Negeri Padang, kampus yang terletak di pusat keramaian ini memang juga akan melaksanakan pemilihan Presiden Mahasiswa. UNP tidak menerapkan sistem partai politik untuk menjadi calon presiden dan calon anggota legislativ.
Hari ini, ada 3 orang Calon Presiden yang akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan M-1 di kampus UNP. Pemilihannya baru akan dilangsungkan pada selasa (5/7/07), sama dengan IAIN tadi.
Calon presiden itu memang memiliki basis massa masing-masing, pencalonan merekapun dilakukan berdasarkan massa tersebut.
Kita berharap pesta yang berlangsung dapat menjadi pencerahan dan pencerdasan politik bagi mahasiswa UNP, menjadi ajang silaturrahim dan menunjukan soliditas kemahasiswaan.
***
Karena proses demokrasi itulah agaknya membuat mahasiswa Sumbar tak lagi terlihat dalam aksi-aksi moralnya. Jika mahasiswa di daerah lain telah menyampaikan sikap mereka atas dana DKP, maka sampai sekarang di Sumbar belum terdengar sikap yang jelas dan tegas atas kasus itu.
Pesta demokrasi yang berlangsung di tiga kampus besar di Sumbar sepertinya memang menguras habis semua kekuatan mahasiswa, sehingga mahasiswa Sumbarpun kehilangan motor penggeraknya.
Meski ini tak dapat dijadikan alasan tunggal, tapi setidaknya salah satu alasan mandulnya pergerakan mahasiswa Sumbar hari ini karena memang mereka sedang menentukan sikap atas kondisi politik kampus mereka.
Selamat berpesta kawan, Rakyat menunggu aksi kalian selanjutnya. Mahasiswa tidak hanya untuk mahasiswa, sejarah mencatat bahwa mahasiswa ternyata lebih banyak ”di serahkan” kepada rakyat, membela rakyat dan kepentingan rakyat. Seperti lirik lagu perjuangan diatas, yang sering kalian lantunkan dijalanan. Karena kalianlah parlemen jalanan itu.
Hidup mahasiswa!!
Hidup rakyat!!

