
Senyum sendiri…hohoho
Komputerku, teman curhat, tempat luapan pikiran dan emosi.

Meski sendiri, senyum itu pengobat hati.
Logo ini, sebuah komunitas tempatku mengupas semua kelelahan, menguatkan kembali semangat dakwah

Senyum sendiri…hohoho
Komputerku, teman curhat, tempat luapan pikiran dan emosi.

Meski sendiri, senyum itu pengobat hati.
Logo ini, sebuah komunitas tempatku mengupas semua kelelahan, menguatkan kembali semangat dakwah
Maksud dari tulisan ini tidaklah sok menjadi problem solver bagi semua. Tapi yang jelas adalah bentuk kecil dari gundahan hati terhadap fenomena yang ada selama ini. Khususnya Wisma.
Menarik bagi penulis ketika membahas topic yang satu ini. Karena ketika kita membahas wisma kita pasti akan membahas banyak orang, pribadi yang heterogen (meski sama-sama tarbiyah),watak yang berbeda, sampai gaya berjalan yang beragam.
Menurut pengalaman penulis yang sudah berada dan bersemayam di salah satu wisma di FMIPA UNAND sejak 4 tahun yang lalu. Segala karakter manusia yang ditemui adalah sebuah catatan indah dalam hidup penulis.
Beberapa problematika (tentu juga dengan solusinya) yang penulis temui selama ini :
1. Kurangnya rasa bertanggung jawab terhadap kamar.
Kamar yang kurang nyaman emang adalah masalah kebanyakan wisma yang notabene anggotanya adalah aktivis. Banyak kondisi wisma yang gak steril dalam pengadaan oksigen. Jangankan untuk hendak silaturrahim ke kamar, membaunkannya saja penghuni lain sudah pusing. Kotornya kamar akan berdampak amat buruk dengan wisma. Sehingga membuat suasana wisma tidak nyaman dan kurang asyik. Karena bagaimanapun kebersihan wisma juga ditentukan oleh kondisi masing-masing kamar yang ada.
Solusi : refresh lagi pikiran dan pola hidup kita bahwa Islam adalah agama yang bersih. Buat agenda rutin untuk membersihkan kamar. Jika perlu buat daftar piket sesame anggota kamar untuk membersihkan kamar. Atau jika memungkinkan, adakan kompetisi kamar terbersih.
2. Egoisme beberapa anggota wisma.
Yap…ini merupakan adalah factor terbesar dalam setiap permasalahan yang timbul di wisma. Tentu adalah hal berat bagi satu wisma jika setiap anggotanya mengedepankan rasa egoisme.
Solusi : mencoba untuk saling mengingatkan bagaimana tingginya bentuk itsar sahabat terhadap sahabat lainnya. Ingat kisah Abdurrahman bin auf ketika baru nyampe madinah di saat hijrah??beliau ditawari oleh sahabat Anshar untuk memilih istri sahabat anshar yang di inginkannya. Dan sahabat anshar itu ikhlas menceraikannya untuk dikawini oleh Abdurrahman bin Auf. Nah…kita sanggup gak?
3. Tidak konsisten terhadap kebijakan yang ada di wisma.
Ini juga salah satu factor kehancuran sesama anggota wisma. Lah kok?? Iya donk…karena ketika salah seorang dari angota wisma melanggar kesepakatan yang telah dibuat bersama. Maka jika tidak diperingatkan , bersiaplah untuk menjadi wisma yang tak konsisten. Termasuk terhadap kata-kata sendiri.
Pernah suatu ketika kebijakan wisma untuk langsung mencuci piring yang telah digunakan atau simpan dikamar. Nah hanya karena satu orang yang menunda untuk mencuci piring dan meletakkan di dekat sumur. Alhasil, pengikut piring tersebut
menjadi banyak. Akhirnya numpuk.
Solusi : ingat surat 61 ayat 2 dan 3. bahwasanya Allah membenci orang-orang yang mengatakan sesuatu padahal dia tidak melaksanakannya. Coba dibuat di mading wisma apa-apa saja yang telah disepakati, sehingga tidak ada kesepakatan ulang. Jika ada yang melanggarm kita hanya tinggal melihatkan peraturan yang dilanggarnya.
4. Figuritas, senioritas yang sudah luntur.
Wah kalo yang satu ini tentu adalah permasalahan yang dikembalikan kepada masing-masing pribadi senior yang berada disalah satu wisma. Ketika senior sudah tidak peduli terhadap wisma. Jangan harap anggota baru bisa konsisten dan betah terhadap wisma dan perangkatnya. Celakanya lagi jika senior adalah pembawa permasalahan terbesar dalam wisma. Misal jika junior sedang menikmati belajar, senior malah berhiruk pikuk dengan suara yang lantang.
Solusi : ketedalanan dalam dakwah adalah sebaik-baik dakwah. Budayakan saling menasehati antar sesame. Dan diharapkan tidak ada senior tunggal di satu wisma. Karena jika tunggal, ketika si tunggal itu membuat onar maka tidak ada senior lain yang dapat dijadikan contoh bagi junior.
5. Privasi yang tinggi.
Hihihi….adalah sebuah bentuk HAM (hak asasi manusia) dalam sebuah wisma. Tentu yang namanya privasi adalah sebuah hal yang tidak bisa kita hilangkan. Tapi juga tidak wajar jika privasi melebihi rasa ukhuwah antar sesame ikhwah.
Solusi : membuka komunikasi yang lebar dan memberi informasi yang pantas kepada anggota wisma. Hal-hal apa saja yang merupakan privasi bagi kita. Agar kelak mereka (anggota wisma yang lain) tidak salah.
6. Kurang paham terhadap sesame.
Yah…metoda tafahum adalah metode memberi tanpa harus meminta. Nah…kebanyakan dari kita kurang bisa menerapkan hal ini. Banyak diantara kita yang selalu meminta. “pahami ana akh…ana sibuk. Pagi rapat,siang kuliah, sore mesti rapat lagi” sehingga ini banyak amanah yang tidak terselesaikan dengan baik. solusi : baca lagi fiqh ukhuwah, menghindari prasangka, membudayakan tabayyun yang sehat, yang penting muhasabah diri adalah hal utama.
7. Tidur pagi.
Waaa….ini adalah sebuah pekerjaan yang enak dilakukan, asyik banget. Tapi gak ada landasan syar’inya. Ada-ada saja alasan kita untuk tidur pagi. “afwan akh, ana tidak dating rapat karena ketiduran” nah kalo udah gitu baru kita tau betapa benar Rasul kita untuk tidak pagi hari.
Solusi : lakukan manajemen waktu ala Nabi Daud atau Nabi Muhammad. Untuk membagi hari dan waktu sesuai kondisi diri. Dan komiment. Sebab tanpa komitmen semuanya nihil. Hidup sesuai rencana memang sulit, tapi hidup tanpa rencana jelas ngawur.
8. Tak bertanggung jawab.
Masih ingat dengan lirik lagu “kalo soal berkilah, abang emang rajanya”?. Nah perkataan itu sering kita rasakan. Banyak diantara anggota wisma yang seharusnya piket. Eh malah kabur atau pura-pura tidak ingat. Piket yang seharusnya dia lakukan, tapi tak ia lakukan hanya dengan alas an “ana lupa akh, itukan fitrahnya manusia”. Waduh!!
Solusi : coordinator piket bersikap tegas terhadap pelanggar piket. Dan harus ada iqob yang diberikan bagi orang-orang pelanggar piket. Entah itu makan malam gratis atau ifthor gratis. Kan asyik.
9. Soleh pribadi.
Padahal sudah banyak ustadz yang mengatakan kepada setiap da’I untuk menjadi soleh social. Artinya soleh secara bersama-sama. Nah masih ingat dengan sebuah kisah tentang Negeri yang akan dihancurkan oleh Allah dimana dimulai dari salah satu rumah yang merupakan rumah orang saleh?. Bener juga sih kalo ibadah adalah urusan nafsi-nafsi. Tapi surga emang milik kita sendiri? Terlalu luas couy. Trus emang bidadari surga hanya untuk kita?
Solusi : ingat lagi bahwa peran kita sebagai da’i. penyeru manusia. Kemudian membudayakan saling mengingatkan antar anggota wisma.
10. Komentator atau raja berkilah.
Ini sepele se. Tapi cukup mengganggu esksistensi ukhuwah di suatu wisma. Ada-ada saja yang dikomentari oleh beberapa ikhwah yang melihat sikap ikhwah yang lain. Sehingga ketika ikhwah ada yang tidak ingin diganggu malah memarahi. Berdebatpun mulai. Akhirnya, cemberut dan lari kekamar.
Solusi : bicaralah seperlunya!
11. Kekanakan-kanakan dan selalu ingin dimanja.
Nah loh…emang ada ikhwan manja???hi…gak kuku deh. Tapi emang sih ada permasalahan seperti ini. Banyak ikhwan yang ingin piketnya digantikan, tugas di selesaikan oleh yang lain. Tapi semua dikembalikan ke pribadi masing-masing. Kali aja bawaannya emang anak manja(mandi jarang,hihihihi….)
Solusi : jangan membiasakan diri untuk menikmati rasa ukhuwah saudara kita terhadap kita. Kapan kita yang ber itsar?
12. Jarang mandi.
Waaa…..ada ikhwan jorok apalagi bau. Pernah suatu ketika seorang ikhwan mengundurkan diri dari makan berjemaah hanya karena tidak sanggup menghirup “pencemaran udara” dari akh yang disebelahnya. Nah fenomena ini paling banyak ditemukan bagi ikhwan yang aktivis papan atas tapi tak peduli terhadap diri. Kalo sudah seperti ini, jangan untuk mendengar dakwah fardiyahnya kita, mendekat saja si calon mad’u udah ngeh. Mending kabur dari pada deket dia. Kalo udah gini, merasa bersalah gak?
Solusi : usahakan dikantong ada parfum, didalam atas ada diadorane, parfum. Pokoknya jika tak sempat mandi masih ada solusi untuk wangi tanpa berlebihan.
13. Kurang memiliki jiwa pembelajar.
Ini lho salah satu permasalahan terbesar bagi beberapa anggota wisma. Masa sih hanya untuk membaca 30 menit sehari untuk up grade diri aja gak bisa. Sesibuk apa se lo??
Solusi : budayakan membaca. Karena itu sarana up grade diri. Lagian kan kita akan jadi Murobi
14. Managemen waktu jama’ah.
Kalo bahasa kerennya se manajemen team work. Amal jama’I bahasanya orang arab. Kebanyakan wisma menjadikan setiap jam adalah se enaknya. Jam tidur tidak diatur, jam belajarnya kapan? Jam ngumpul bareng gimana? Nah ini harus dipikirkan. Jam untuk rihlah kelaurga besar wisma.
Solusi : buat jadwal yang jelas dan rapi serta diketikin dan diprint. Missal, jam ngumpul bareng ba’da manghrib sampe qobla isya. Ba’da isya adalah waktu belajar. Dst.
15. Telat bayar logistic.
Ish…ini berat seh untuk disampaikan. But the way, ini adalah permasalah fital dalam keluarga yang bernama anggota wisma. Bagaimana mungkin bisa berdakwah jika beras untuk dimasak saja tidak ada.
Solusi : jika tak ada uang membeli beras. Kan bisa ngutang ma temen di wisma. Kemudian berhemat!
16. Tidak ada adab antar sesama.
Ketua wisma dicuekin, anggota wisma di tindas oleh penguasa wisma.. kalo ini terjadi, wajar aja sesama anggota wisma kurang harmonis.
Solusi : saling menghormati itu adalah adab islam couy. Biar nasehat datang dari mana aja, asal itu benar. Kenapa gak.
17. Ledekan, sindiran.
Ini masalah besar juga diwisma. Budaya “cimeeh” menjadi bahan tak pernah lepas. Terutama di wisma ikhwan (karena emang penulis belum pernah tinggal dirumah akhwat).
Solusi : kurangi ngeledek karena bisa-bisa membuat saudara kita tersinggung. Mending kalo Cuma ikhwan yang diledekin lari kekamar dan ngunci pintu. Kalo dianya future karena melihat tingkah ikhwannya??hayoooo……
Dan lainnya yang mungkin penulis tak bisa sebutkan atau tak terpikirkan. Karena memang penulis adalah hamba Nya yang dho’if.
Banyak maaf. Semoga bermanfaat.
Pada suatu syura di fakultasku malam itu, kami membahas banyak hal tentang kader, tentang perkembangan dakwah yang hanya melibatkan ikhwan tentunya. Karena pembahasan tentang akhwat bukanlah kerjaan kami, akhwatlah pembahasnya.
Malam itu, ada empat dari enam yang hadir, pembahasan yang cukup memakan waktu, 3 jam lebih. Sampai akhirnya satu pembahasan yang membuatku tercengang. Pembahasan tentang kondisi kader yang ternyata sangat sedikit memiliki binaan, kalaupun ada, itupun berserakan tak beraturan.
Padahal jika dilihat pada dakwah secara jamaah, banyak agenda wajihah yang di kuasai oleh kader terlaksana, kerap rapat-rapat internal berjalan mulus, tapi itu tidak beriringan dengan semangat dakwah fardhiyah. Semangat kader mengelola dakwah jamaah terlalu tinggi yang tidak tawazun dengan semangat dakwah fardhiyahnya.
Banyak kader yang senang datang rapat, banyak kader yang senang menjalankan amanahnya di BEM misalnya. Tapi nyaris tak ada kader yang memiliki semangat yang sama untuk mencari binaan, dan kalaupun ada binaan tapi sembarangan mengelolanya.
Beberapa waktu lalu aku bertanya pada ustadzku tentang kondisi ini. Ustadzku menjawab dengan jawaban yang aku tak setuju dengannya secara keseluruhan.
Ustadzku menjawab : setiap orang memiliki potensi masing-masing, ada diantara mereka yang bisa melaksanakan dakwah formal/jamaah, ada diantara mereka yang hanya bisa melakukan pembinaan kader, dan jarang diantara mereka yang amanah jamaahnya bagus dan dakwah fardhiyahnya juga lancar.
Memang untuk kata-kata diatas aku sepakat. Tapi bukankah kita adalah generasi yang memiliki potensi itu?. Mustahil rasanya ketika seorang kader yang memiliki halaqah binaan tapi tidak bisa manajemen dakwah formal/jamaah. Juga mustahil kiranya ketika seorang kader yang memiliki banyak amanah jamaah tapi dakwah fardhiyahnya tidak berjalan. Jika itu terjadi, berarti secara umum bisa kita katakan bahwa pemahaman dakwah di banyak kader kita bermasalah, ternyata banyak diantara kader kita baru parsial dalam memahami dakwah.
Bercermin pada banyak sahabat Rasulullah SAW,para sahabat RA, melaksanakan amanah jamaah/formal, sebagai khalifah mungkin, sebagai gubernur mungkin, tapi tidak membuat mereka berhenti melaksanakan dakwah fardhiyah. Karena dimanapun kita, kemanapun kita, apapun posisi kita, yang namanya dakwah fardhiyah meski kita laksanakan, yang namanya membina kader itu adalah keniscayaan.
Majunya jamaah kita ini, menapak terus kedepannya gerakan dakwah ini karena kesungguhan pendahulu kita dalam melakukan dakwah fardhiyah, kesungguhan mereka untuk membina kader sebanyak-banyaknya. Bahkan ketika itu mereka tidak hanya mencari dan membina kader, tapi mereka mesti melaksanakan amanah jamaah juga.
Hari ini, ketika kader telah ”tampak” banyak, jangan sampai kita tertipu atas kemenangan semu itu, kemenangan sesungguhnya bagi jamaah dakwah ini menurutku adalah ketika kadernya hidup dengan kemuliaan bersama Islam, dan mati sebagai pembela Islam. Terserah apakah ketika itu Islam telah menjadi penguasa dunia ataupun belum.
Jika pendahulu kita mesti mencari-cari binaan, tapi hari ini sesungguhnya banyak masyarakat, banyak pemuda, pelajar dan mahasiswa yang ingin di bina. Mereka ingin memiliki karakter yang mereka lihat pada diri kader-kader dakwah ini. Lantas apakah keinginan mereka untuk melaksanakan ini tidak kita sambut dengan baik? Apakah kita akan membiarkan semangat mereka yang tinggi akan hilang bersamaan dengan lamanya waktu mereka menunggu untuk di tarbiyah.
Wahai kader dakwah, jika orang yang mendapat hidayah melalui tangan kalian, maka itu lebih baik dari dunia dan se isinya, itu lebih baik dari unta merah.
Jika memang kita adalah perindu surga Allah, jika kita memang ingin masuk Jannah Nya, janganlah masuk ke sana sendirian, surga terlalu luas hanya untuk aku, antum.
Aku teringat ungakapan ustadzku tentang ini. Jika seseorang yang mendapatkan hidayah dari tangan antum, dan orang itu ternyata menjadi kader yang militan yang kemudian syahid. Apakah antum tidak senang? Mungkin ketika di akhirat nanti orang itu akan memberi syafaat kepada antum, karena syuhada punya hak untuk itu.
Jika tidak antum rebut mereka para mad’u, maka bisa jadi dunia kemaksiatanlah yang merebut mereka.
Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Dipersimpangan jalan
Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Dilembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun kejalan
Demi mempersembarkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta
(totalitas perjuangan)***
Dua kampus besar di Sumatera Barat memang sedang melangsungkan pesta demokrasi, pesta yang mencerminkan pendewasaan politik di lembaga pendidikan nasional. Perhelatan politik yang bernama pemilihan Presiden mahasiswa memang sedang heboh-hebohnya di Sumatera Barat. Jika Universitas Andalas telah berhasil melangsungkan pesta demokrasi itu, maka selasa depan (5/6/07) Universitas Negeri Padang dan Institut Agama Islam negeri Imam Bonjol yang akan melakukannya.
Tanggal 8 mei 2007 lalu, Universitas Andalas telah mendapatkan seorang Presiden Mahasiswa baru, Khalid namanya. Dengan sedikit riak demokrasi, Khalid melangkah ke istana Negara mahasiswa Universitas Andalas, PKM lantai II.
Pada tanggal Khalid memenangkan Pemilihan Umum Raya Keluarga Mahassiswa(PEMIRA KM) di kampus hijau itu, memang ada sedikit penolakan terhadap adanya PEMIRA oleh sebagian mahasiswa, penentangan dan kesepakatan adalah ciri khas demokrasi, dan penyikapanlah yang membedakan level intelektual. Penolakan memang terjadi, tapi tidak sampai tataran anarkis, sebagian mahasiswa FISIP dengan Presiden FISIP UNAND menyatakan menolak PEMIRA KM UNAND di fakultasnya. Lantas itu tidak membuat terjadinya “penyatuan fisik” pada dua pihak berbeda, permasalahan selesai tatkala dialog diselesaikan.
Berbeda halnya dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang. Meski berlabelkan Islam, agaknya pendewasaan sikap demokrasi kurang berlangsung disini. Semestinya Pemilihan Presiden Mahasiswa IAIN berlangsung pada kamis minggu lalu (31/5/07), diundur menjadi Selasa (5/07/07) karena terjadi penolakan PEMIRA yang agak anarkis. Kampus IAIN memang yang paling berbeda kondisi politiknya dibanding kampus lain di SUMBAR. Jika UNP dan UNAND menerapkan sistem PEMIRA tanpa kendaraan politik untuk memajukan calon Presiden, IAIN memiliki kendaraan politik yang bernama Partai Politik. Nyaris sama dengan sistem PILPRES di Indonesia, setiap calon Presiden mahasiswa mesti memiliki Partai Politik untuk duduk di kursi mahasiswa satu (M-1).
Ada 5 partai politik yang mewarnai kampus IAIN, dan kasus penolakan terjadi karena 4 dari 5 parpol tersebut menarik semua calon anggota legislative dan calon Presidennya pada hari H pemilihan. Lantas dengan alasan ini 4 parpol tersebut menolak PEMIRA karena hanya di ikuti oleh satu orang peserta, yakni satu partai ; Partai Pergerakan Mahasiswa.
Alasan ini memang logis, hal ini jugalah yang membuat ketegangan diantara panitia yang bersikeras untuk melanjutkan PEMIRA, dan berujung pada anarkis kecil di IAIN. Penyelesaianpun melibatkan pihak birokrat kampus, dengan kesepakatan bersama, PEMIRA di undur pada selasa depannya.
Lalu, apakah kamis kelabu di IAIN akan terjadi lagi pada selasanya?. Kita simak saja perkembangan informasi dari IAIN atas pesta demokrasinya.
UNP
Universitas Negeri Padang, kampus yang terletak di pusat keramaian ini memang juga akan melaksanakan pemilihan Presiden Mahasiswa. UNP tidak menerapkan sistem partai politik untuk menjadi calon presiden dan calon anggota legislativ.
Hari ini, ada 3 orang Calon Presiden yang akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan M-1 di kampus UNP. Pemilihannya baru akan dilangsungkan pada selasa (5/7/07), sama dengan IAIN tadi.
Calon presiden itu memang memiliki basis massa masing-masing, pencalonan merekapun dilakukan berdasarkan massa tersebut.
Kita berharap pesta yang berlangsung dapat menjadi pencerahan dan pencerdasan politik bagi mahasiswa UNP, menjadi ajang silaturrahim dan menunjukan soliditas kemahasiswaan.
***
Karena proses demokrasi itulah agaknya membuat mahasiswa Sumbar tak lagi terlihat dalam aksi-aksi moralnya. Jika mahasiswa di daerah lain telah menyampaikan sikap mereka atas dana DKP, maka sampai sekarang di Sumbar belum terdengar sikap yang jelas dan tegas atas kasus itu.
Pesta demokrasi yang berlangsung di tiga kampus besar di Sumbar sepertinya memang menguras habis semua kekuatan mahasiswa, sehingga mahasiswa Sumbarpun kehilangan motor penggeraknya.
Meski ini tak dapat dijadikan alasan tunggal, tapi setidaknya salah satu alasan mandulnya pergerakan mahasiswa Sumbar hari ini karena memang mereka sedang menentukan sikap atas kondisi politik kampus mereka.
Selamat berpesta kawan, Rakyat menunggu aksi kalian selanjutnya. Mahasiswa tidak hanya untuk mahasiswa, sejarah mencatat bahwa mahasiswa ternyata lebih banyak ”di serahkan” kepada rakyat, membela rakyat dan kepentingan rakyat. Seperti lirik lagu perjuangan diatas, yang sering kalian lantunkan dijalanan. Karena kalianlah parlemen jalanan itu.
Hidup mahasiswa!!
Hidup rakyat!!
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer