..::My Diary is My Best Friend::..

June 2, 2007

LPK in Memoriam I

Filed under: Umum

Pagi itu aku berkemas menuju kantor partai di bilangan Jati, Padang. Bersama dua orang rekan aku menumpang sebuah bus kota dari depan simpang ke rumah ku yang memakan waktu lebih kurang 15 menit ke kantor partai.
Perjalanan ku ini memang agak sedikit berbeda dari yang biasa. Aku memang sudah terbiasa dan bahkan rutin setidaknya 2 kali seminggu menempuh jalan yang sama untuk rute yang sama dan untuk tujuan tempat yang sama.Akan tetapi kali ini aku sedang dalam perjalanan panjang menuju kantor Partai di Kota Payakumbuh yang memakan waktu paling cepat 2 jam perjalanan.
Keberangkatanku ke Kota Payakumbuh memang mendadak, aku sendiri tidak memasukannya ke agendaku bulan ini dan anggarannyapun tidak tercatat dalam dana reguler, sehingga untuk keperluan finansial ini aku terpaksa menggunakan dana ”tak terduga” dalam catatan kasku.
Berangkat dari rumah dua orang, sampai di Jati aku berkumpul dan menjadi 4 orang, dan perjalanan ke Payakumbuh juga ku tempuh dengan jumlah yang terakhir tadi. Sesampai di Payakumbuh kami menjadi lebih kurang 54 orang dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Kenapa bisa jadi ramai? Ya, karena hari itu, kamis, 54 orang yang mewakili daerah masing-masing memang akan menjalani sebuah kegiatan yang bernama Latsar Pandu Keadilan; LPK.
LPK ini adalah yang kedua dimana tahun lalu adalah yang pertama, bertempat di daerah yang sama, daerah Kota Payakumbuh.
***
54 orang tadi tidak datang secara serentak, diantaranya memang datang terlambat tapi lebih banyak datang tepat waktu. Namanya juga Kepanduan, komunitas kader dakwah yang tahan banting.
Aku dan beberapa kawan dari Padang memang datang tidak terlalu awal tapi kami juga tidak telat sehingga diantara kami ada yang menjadi pengawal pendaftaran Calon Wali Kota dan Wakil Walikota Payakumbuh. Disini, Payakumbuh, memang sedang akan diadakan perhelatan pesta demokrasi daerah yang kaum elite Negara ini menyebutnya dengan PILKADAL (pemilihan kepala daerah langsung).

Kamis, 24 Mei, jam 21.00
Semua Kepanduan dari daerah di intruksikan untuk keluar dari ruangan DPD Partai Keadilan Sejahtera Kota Payakumbuh, intruksinya memakai pakaian lengkap, menyandang kerel (ransel besar), berbaris perdaerah dan harus sudah memiliki komanda regu.
Malam ini, Padang di komandoi oleh sahabatku di kepanduan yang bernama junaidi, dia adalah kader yang taat, nyaris semua orang senang dengan sikap dan perilakunya, akhlaknya santun dan tidak pernah membalas jika mendapatkan ledekan dari beberapa teman kepanduan. Junaidi adalah alumni aceh karena bencana tsunami yang melanda Desember 2004 dulu, ketika di Aceh, junaidi bertindak sebagai juru masak kepanduan, dan dia dikenal dengan kepanduan yang tidak mau di ajak pulang ke Padang. Maklum, ke enakan di medan jihad katanya.
Setelah berbasa basi, panitia mengumumkan bahwa seluruh peserta akan long march menuju lokasi, perjalanan itu sendiri dimulai dari pukul 22.00, memakan perjalanan lebih kurang satu setengah jam. Perjalanan dibagi atas regu dengan membentuk satu berbanjar, sehingga dari kejauhan barisan Kepanduan ini tampak rapi dalam satu banjarnya.
Perjalanan menuju lokasi di pandu oleh seorang KORSAD (korp satuan tugas kepanduan, sejenis pasukan khusus kepanduan) yang berasal dari Payakumbuh, sedangkan KORSAD yang lain menuju lokasi dengan mobil dan bahkan sudah ada yang stand by di posko.
Sesampai di lokasi kami disambut oleh panitia dan instruktur, sembari memberi keterangan denah MCK (Mandi Cuci Kakus) di lokasi, instruktur juga mempersilahkan kami tidur beralaskan matras di atas padang rumput dengan beratapkan langit, untung hujan sudah melanda sebelumnya, sehingga ketika kami sampai dilokasi hujan sudah reda yang membuat kami bisa tidur tanpa tetesan hujan dari langit, meski demikian, sisa dari hujan, genangan air memang sudah ada. Ini membuat kami mencari tempat yang layak untuk menghentikan rutunitas jiwa dan raga malam itu.

Jum’at, 25 Mei. Pukul 05.00
Long march ke lokasi, perjalanan dari padang ke payakumbuh yang memakan waktu lebih dari 2 jam, kegiatanku di posko bencana air pasang selama lebih dari 3 hari 3 malam membuatku sungguh kelelahan.
Alhamdulillah, tidurku malam tadi sangat lancar. Ini membuat teman satu regu bertanya, kenapa aku bisa tidur pulas dengan kondisi agak becek,dingin, dibawah kolong langi.
Pertanyaan ini memang pantas diajukan temanku itu, maklum tadi malam dia tidur tak senyenyak aku. Sedikit senyum dan mengucap hamdalah, aku berbagi tips. ”ana juga tidak tau bisa tidur seperti semalam, se ingat ana, ketika akan tidur ana berdoa dan berkata dalam hati bahwa ana malam ini tidur diatas kasur empuk”. Jawaban itu yang ku berikan yang membuat kening temanku berkerut.

Hari yang sama, pada ba’da subuh
Hari pertamaku di lokasi dimulai pada ba’da subuh, kami dipersilahkan oleh panitia untuk melaksanakan amalan yaumi terlebih dahulu sebelum di intruksikan untuk membangun big fak, entah aku tak tau tulisannya yang jelas mereka sering menyebutnya seperti tulisan aku ini, maksud big fak itu adalah sebuah tenda yang dibuat dari pepohonan, beratapkan mantel/daun2, pokoknya tidak boleh menggunakan tenda untuk membangunnya.
Selesai pembuatan tempat berteduh regu kami yang memang telah dipecah tadi, kami melaksanakan upacara pembukaan LPK. Acara pembukaan sendiri dihadiri oleh ust.Chaerul Umam, beliau adalah anggota DPR RI dari Fraksi PKS, juga merupakan ketua wilyah dakwah SUMBAGUT (Sumatera Bagian Utara).
Tidak lama untuk pembukaan, kemudian kami diberi Riyadhoh (olah raga) yang juga tidak lama,tapi cukup membuat banyak peserta LPK muntah, pusing, terkapar di tenda kesehatan ataupun tenda ”big fak” peserta.
Riyadhoh ini memang agak sedikit keras, pamanasan awalnya, berguling-guling akhirnya. Praktis, perut yang belum di isi, tidur yang kurang tadi malam, kekuatan fisik dan mental yang minus membuat banyak peserta ”tumbang kalah” terhadap kondisi.
Alhamdulillah, aku tidak termasuk dalam bagian itu, aku masih menjadi pememang dalam hal ini.
Riyadhoh yang dimulai pukul 08.00 sampai 9.30 ini di akhiri oleh sarapan selama lima belas menit, memakan teh dan roti kami harus menyelesaikan itu semua sampai makan siang datang. Cukup 15 menit, pluit yang berbunyi perintah berkumpulpun berteriak, serentak dan spontan semua peserta berlari ketengah lapangan meninggalkan semua nikmatnya istirahat, nikmatnya secangkit teh yang dibagi 9 orang. Kecepatan lari kami (peserta,red) bertambah cepat tatkala instruktur menghitung mundur10 sampai satu yang semakin cepat.
Beberapa kawan yang telat memang menjadi tontonan gratis bagi semua peserta yang datang tepat waktu, yang telat diberi push up 10, merayap dan berguling. Huaaakkk….muntah dari peserta tak terelakan lagi. Aku masih menatap mereka di barisan orang-orang yang datang tepat waktu.
Selesai babak pemberian hukuman telat, kami diberi sedikit pemandian yang bernama merayap diatas Lumpur sawah. Gila, seumur hidupku baru kali ini aku melihat sawah yang jika kita berdiri, maka akan memakan seluruh kaki hingga paha, sehingga cara yang paling aman dan tepat menyeberangi sawah ini adalah dengan merayap diatasnya.
Acaranya tidak lama, setelah merayap disawah, kami disuruh memanjat tebing, berlari dengan kencang sampai 45 menit menjelang waktu jum’atan.
Jum’atan siang ini terasa begitu berarti, terasa begitu berat sekaligus menantang bagiku. Jum’at ini khas!.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://dolla.blogsome.com/2007/06/02/lpk-in-memoriam-i/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer