Titip rindu untuk mereka ya Rabb.
Malam itu aku sedang duduk di ruang kepanduan, kantor partaiku sekitar jam 22.00. Bersama banyak kepanduan ketika itu aku mendapatkan SMS dari kawan lama di jakarta. Kawan lama tadi adalah seorang sahabat yang aku kenal sejak masa kanak-kanak dahulu, saat kami di TPA sampai SMA.
Dulu aku tak terlalu dekat dengannya, maklum, keluarganya agak sedikit keras dalam pergaulan, dan ternyata sikap keluarganya yang agak keras itu membuat semua anak-anaknya berhasil.
Aku mulai kenal dengannya pada SMP, hanya sekedar bersapa jika ketemu. Kedekatanku dengannya mulai bertambah ketika aku SMA, meski berbeda SMA tapi kami sering bertemu di FORSISMA(FORUM SILATURRAHIM SISWA ISLAM MANDAU), organisasi yang mengembangkan potensiku menjadi lebih baik, di organisasi ini juga aku menjadi pemimpin keduanya.
Sejak kenal dengannya, banyak hal yang aku pelajari darinya. Sikapnya yang terkadang dewasa dibandingkan temen akhwat membuatku sering berdiskusi dengannya dalam hal psikologi. ya psikologi yang ternyata menjadi jurusan nya di UI. Hayati Rahmah, begitu nama lengkapnya. Dia memiliki dua abang dan satu adek. Buya dan umi, begitu dia memanggil papa dan mamanya. Keluarganya pun termasuk keluarga menengah keatas, tapi dia tak se”fikroh” temen2nya di SMA yang memiliki ekonomi sama.
Suatu hari di SMA ku dulu, aku sedang membaca diruang pustaka sekolah, mataku tertuju tajam pada sebuah majalah yang dikenal dengan nilai sastra yang tinggi, majalah itu HORISON, dan disana aku membaca sebuah puisi yang ternyata adalah goresan tinta temenku tadi. Tumpahan pikirannya masuk dalam majalah bergengsi tersebut.
Rahmah, begitu aku sering memanggilnya adalah seorang akhwat pendiam, jarang bicara dan suka becanda. Orangnya memang suka menulis dan inilah hobinya.
***
Malam ini Rahma memang sedang bersilaturrahim dengan ku melalui teknologi SMS, menanyakan kabar dan kesibukan. Isi sms yang memang selalu menjadi pembuka pembicaraan kami. Aku dan Rahmah memang sudah lebih dari 2 tahun tidak bertemu, lebaran kemarinpun dia harus tetap di Jakarta, karena masih menunggu ujian jawabnya saat kutanya kenapa gak pulang.
Saat sms dua kali dengan Rahmah, aku menjadi teringat akan sahabat2 masa laluku,temen2 yang menjadi motor penggerak dakwah di Sekolahku. Temen2 yang selalu ku mendapati mereka dengan semangat yang terpancar di wajahnya.
***
Malam itu telah larut, sudah pukul 23.15 saat kukirim sms terakhir ke Rahmah, dinginya udara malam mulai menyapaku, mataku kantuk.
Salam rindu buat temen2 di FORSISMA dulu : Nurya, Rudi, Ari, kardo, Heri, Rahmah, Etika, Ina, Weni, Adel. Meski ada diantara kalian yang sudah meninggalkan dakwah ini, ku berharap, mudah-mudahan Allah kembali mempertemukan kita pada barisan panjang orang yang menunggu jatah masuk ke Jannah Nya, Amiin.

