..::My Diary is My Best Friend::..

June 2, 2007

Nyanyian qalbu, teriakan jiwa, hentakan azzam!

Filed under: Umum

malam ini belum terlalu larut saat ku
masih menggoyang-goyangkan jemari di
keyboard komputer.
aku bertanya pada jiwaku, benarkah ini
saatnya ku mencari bidadari itu?
ku teringat pada lirik nasyid Suara
Persaudaraan berjudul Galau :
Apabila telah tiba masaku
Untuk segera mengakhiri lajangku
dengan segenap kemampuan yang Allah
berikan
Insya Allah azzamku segera ku tunaikan

Namun bila ku raba dalam hati
adakah ini terlalu cepat ku lalui…

***
Menikah adalah keniscayaan,
menggenapkan setengah dien kata Nabi
SAW, menguatkan dakwah kata ustadzku,
meredakan kepenatan sepulang mukhayyam
kata teman kepanduanku,menghapus
stress kata seorang teman yang
pengusaha, pelurus dan pengingat kita
kata sebagian besar aktivis dakwah,
penyejuk hati kata sahabatku,
insipirator dan motivator kata temenku
yang penulis, hah..banyak lagi kata
mereka yang telah menikah menuturkan
padaku. Sementara aku, hanya
mendengar, menguatkan azzam, berusaha
ke arah itu tanpa harus kehilangan
identitas “ikhwan” ku.
***
Tapi memang seperti lirik nasyid Saura
Persaudaraan tadi :
Namun pernikahan begitu indah kudengar
membuatku ingin segera melaksanakan
namun bila ku lihat aral melintang luas
hatiku maju mundur dibuatnya.

Ya begitulah rasa seorang “pencari
cinta”, seperti ku saat ini. ya
seperti ku.
Ku hanya mau yang halal, hanya mau
yang berkah, mawadah, mawarah,
sakinah. Aku tidak mau seperti surat
An Nisa : 9. Aku hanya mau punya
genereasi Rabbani, yang dengan
generasiku itu membuatku “ditendang”
masuk ke Syurga Nya.
***
Malam asih belum larut saat ku tulis
ini, saat ku mencari jati diri ku dan
jati diri bidadari ku tadi.
Aku tak tau siapa dia, aku hanya yakin
bahwa Allah Maha Adil dengan seluruh
Sifat dan Nama Nya yang disandarkan
pada Nya.
Aku sungguh mengharapkan KasihMu ya
Rabb.

Titip rindu untuk mereka ya Rabb.

Filed under: Umum

Malam itu aku sedang duduk di ruang kepanduan, kantor partaiku sekitar jam 22.00. Bersama banyak kepanduan ketika itu aku mendapatkan SMS dari kawan lama di jakarta. Kawan lama tadi adalah seorang sahabat yang aku kenal sejak masa kanak-kanak dahulu, saat kami di TPA sampai SMA.
Dulu aku tak terlalu dekat dengannya, maklum, keluarganya agak sedikit keras dalam pergaulan, dan ternyata sikap keluarganya yang agak keras itu membuat semua anak-anaknya berhasil.
Aku mulai kenal dengannya pada SMP, hanya sekedar bersapa jika ketemu. Kedekatanku dengannya mulai bertambah ketika aku SMA, meski berbeda SMA tapi kami sering bertemu di FORSISMA(FORUM SILATURRAHIM SISWA ISLAM MANDAU), organisasi yang mengembangkan potensiku menjadi lebih baik, di organisasi ini juga aku menjadi pemimpin keduanya.
Sejak kenal dengannya, banyak hal yang aku pelajari darinya. Sikapnya yang terkadang dewasa dibandingkan temen akhwat membuatku sering berdiskusi dengannya dalam hal psikologi. ya psikologi yang ternyata menjadi jurusan nya di UI. Hayati Rahmah, begitu nama lengkapnya. Dia memiliki dua abang dan satu adek. Buya dan umi, begitu dia memanggil papa dan mamanya. Keluarganya pun termasuk keluarga menengah keatas, tapi dia tak se”fikroh” temen2nya di SMA yang memiliki ekonomi sama.
Suatu hari di SMA ku dulu, aku sedang membaca diruang pustaka sekolah, mataku tertuju tajam pada sebuah majalah yang dikenal dengan nilai sastra yang tinggi, majalah itu HORISON, dan disana aku membaca sebuah puisi yang ternyata adalah goresan tinta temenku tadi. Tumpahan pikirannya masuk dalam majalah bergengsi tersebut.
Rahmah, begitu aku sering memanggilnya adalah seorang akhwat pendiam, jarang bicara dan suka becanda. Orangnya memang suka menulis dan inilah hobinya.
***
Malam ini Rahma memang sedang bersilaturrahim dengan ku melalui teknologi SMS, menanyakan kabar dan kesibukan. Isi sms yang memang selalu menjadi pembuka pembicaraan kami. Aku dan Rahmah memang sudah lebih dari 2 tahun tidak bertemu, lebaran kemarinpun dia harus tetap di Jakarta, karena masih menunggu ujian jawabnya saat kutanya kenapa gak pulang.
Saat sms dua kali dengan Rahmah, aku menjadi teringat akan sahabat2 masa laluku,temen2 yang menjadi motor penggerak dakwah di Sekolahku. Temen2 yang selalu ku mendapati mereka dengan semangat yang terpancar di wajahnya.
***
Malam itu telah larut, sudah pukul 23.15 saat kukirim sms terakhir ke Rahmah, dinginya udara malam mulai menyapaku, mataku kantuk.
Salam rindu buat temen2 di FORSISMA dulu : Nurya, Rudi, Ari, kardo, Heri, Rahmah, Etika, Ina, Weni, Adel. Meski ada diantara kalian yang sudah meninggalkan dakwah ini, ku berharap, mudah-mudahan Allah kembali mempertemukan kita pada barisan panjang orang yang menunggu jatah masuk ke Jannah Nya, Amiin.

LPK in Memoriam I

Filed under: Umum

Pagi itu aku berkemas menuju kantor partai di bilangan Jati, Padang. Bersama dua orang rekan aku menumpang sebuah bus kota dari depan simpang ke rumah ku yang memakan waktu lebih kurang 15 menit ke kantor partai.
Perjalanan ku ini memang agak sedikit berbeda dari yang biasa. Aku memang sudah terbiasa dan bahkan rutin setidaknya 2 kali seminggu menempuh jalan yang sama untuk rute yang sama dan untuk tujuan tempat yang sama.Akan tetapi kali ini aku sedang dalam perjalanan panjang menuju kantor Partai di Kota Payakumbuh yang memakan waktu paling cepat 2 jam perjalanan.
Keberangkatanku ke Kota Payakumbuh memang mendadak, aku sendiri tidak memasukannya ke agendaku bulan ini dan anggarannyapun tidak tercatat dalam dana reguler, sehingga untuk keperluan finansial ini aku terpaksa menggunakan dana ”tak terduga” dalam catatan kasku.
Berangkat dari rumah dua orang, sampai di Jati aku berkumpul dan menjadi 4 orang, dan perjalanan ke Payakumbuh juga ku tempuh dengan jumlah yang terakhir tadi. Sesampai di Payakumbuh kami menjadi lebih kurang 54 orang dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Kenapa bisa jadi ramai? Ya, karena hari itu, kamis, 54 orang yang mewakili daerah masing-masing memang akan menjalani sebuah kegiatan yang bernama Latsar Pandu Keadilan; LPK.
LPK ini adalah yang kedua dimana tahun lalu adalah yang pertama, bertempat di daerah yang sama, daerah Kota Payakumbuh.
***
54 orang tadi tidak datang secara serentak, diantaranya memang datang terlambat tapi lebih banyak datang tepat waktu. Namanya juga Kepanduan, komunitas kader dakwah yang tahan banting.
Aku dan beberapa kawan dari Padang memang datang tidak terlalu awal tapi kami juga tidak telat sehingga diantara kami ada yang menjadi pengawal pendaftaran Calon Wali Kota dan Wakil Walikota Payakumbuh. Disini, Payakumbuh, memang sedang akan diadakan perhelatan pesta demokrasi daerah yang kaum elite Negara ini menyebutnya dengan PILKADAL (pemilihan kepala daerah langsung).

Kamis, 24 Mei, jam 21.00
Semua Kepanduan dari daerah di intruksikan untuk keluar dari ruangan DPD Partai Keadilan Sejahtera Kota Payakumbuh, intruksinya memakai pakaian lengkap, menyandang kerel (ransel besar), berbaris perdaerah dan harus sudah memiliki komanda regu.
Malam ini, Padang di komandoi oleh sahabatku di kepanduan yang bernama junaidi, dia adalah kader yang taat, nyaris semua orang senang dengan sikap dan perilakunya, akhlaknya santun dan tidak pernah membalas jika mendapatkan ledekan dari beberapa teman kepanduan. Junaidi adalah alumni aceh karena bencana tsunami yang melanda Desember 2004 dulu, ketika di Aceh, junaidi bertindak sebagai juru masak kepanduan, dan dia dikenal dengan kepanduan yang tidak mau di ajak pulang ke Padang. Maklum, ke enakan di medan jihad katanya.
Setelah berbasa basi, panitia mengumumkan bahwa seluruh peserta akan long march menuju lokasi, perjalanan itu sendiri dimulai dari pukul 22.00, memakan perjalanan lebih kurang satu setengah jam. Perjalanan dibagi atas regu dengan membentuk satu berbanjar, sehingga dari kejauhan barisan Kepanduan ini tampak rapi dalam satu banjarnya.
Perjalanan menuju lokasi di pandu oleh seorang KORSAD (korp satuan tugas kepanduan, sejenis pasukan khusus kepanduan) yang berasal dari Payakumbuh, sedangkan KORSAD yang lain menuju lokasi dengan mobil dan bahkan sudah ada yang stand by di posko.
Sesampai di lokasi kami disambut oleh panitia dan instruktur, sembari memberi keterangan denah MCK (Mandi Cuci Kakus) di lokasi, instruktur juga mempersilahkan kami tidur beralaskan matras di atas padang rumput dengan beratapkan langit, untung hujan sudah melanda sebelumnya, sehingga ketika kami sampai dilokasi hujan sudah reda yang membuat kami bisa tidur tanpa tetesan hujan dari langit, meski demikian, sisa dari hujan, genangan air memang sudah ada. Ini membuat kami mencari tempat yang layak untuk menghentikan rutunitas jiwa dan raga malam itu.

Jum’at, 25 Mei. Pukul 05.00
Long march ke lokasi, perjalanan dari padang ke payakumbuh yang memakan waktu lebih dari 2 jam, kegiatanku di posko bencana air pasang selama lebih dari 3 hari 3 malam membuatku sungguh kelelahan.
Alhamdulillah, tidurku malam tadi sangat lancar. Ini membuat teman satu regu bertanya, kenapa aku bisa tidur pulas dengan kondisi agak becek,dingin, dibawah kolong langi.
Pertanyaan ini memang pantas diajukan temanku itu, maklum tadi malam dia tidur tak senyenyak aku. Sedikit senyum dan mengucap hamdalah, aku berbagi tips. ”ana juga tidak tau bisa tidur seperti semalam, se ingat ana, ketika akan tidur ana berdoa dan berkata dalam hati bahwa ana malam ini tidur diatas kasur empuk”. Jawaban itu yang ku berikan yang membuat kening temanku berkerut.

Hari yang sama, pada ba’da subuh
Hari pertamaku di lokasi dimulai pada ba’da subuh, kami dipersilahkan oleh panitia untuk melaksanakan amalan yaumi terlebih dahulu sebelum di intruksikan untuk membangun big fak, entah aku tak tau tulisannya yang jelas mereka sering menyebutnya seperti tulisan aku ini, maksud big fak itu adalah sebuah tenda yang dibuat dari pepohonan, beratapkan mantel/daun2, pokoknya tidak boleh menggunakan tenda untuk membangunnya.
Selesai pembuatan tempat berteduh regu kami yang memang telah dipecah tadi, kami melaksanakan upacara pembukaan LPK. Acara pembukaan sendiri dihadiri oleh ust.Chaerul Umam, beliau adalah anggota DPR RI dari Fraksi PKS, juga merupakan ketua wilyah dakwah SUMBAGUT (Sumatera Bagian Utara).
Tidak lama untuk pembukaan, kemudian kami diberi Riyadhoh (olah raga) yang juga tidak lama,tapi cukup membuat banyak peserta LPK muntah, pusing, terkapar di tenda kesehatan ataupun tenda ”big fak” peserta.
Riyadhoh ini memang agak sedikit keras, pamanasan awalnya, berguling-guling akhirnya. Praktis, perut yang belum di isi, tidur yang kurang tadi malam, kekuatan fisik dan mental yang minus membuat banyak peserta ”tumbang kalah” terhadap kondisi.
Alhamdulillah, aku tidak termasuk dalam bagian itu, aku masih menjadi pememang dalam hal ini.
Riyadhoh yang dimulai pukul 08.00 sampai 9.30 ini di akhiri oleh sarapan selama lima belas menit, memakan teh dan roti kami harus menyelesaikan itu semua sampai makan siang datang. Cukup 15 menit, pluit yang berbunyi perintah berkumpulpun berteriak, serentak dan spontan semua peserta berlari ketengah lapangan meninggalkan semua nikmatnya istirahat, nikmatnya secangkit teh yang dibagi 9 orang. Kecepatan lari kami (peserta,red) bertambah cepat tatkala instruktur menghitung mundur10 sampai satu yang semakin cepat.
Beberapa kawan yang telat memang menjadi tontonan gratis bagi semua peserta yang datang tepat waktu, yang telat diberi push up 10, merayap dan berguling. Huaaakkk….muntah dari peserta tak terelakan lagi. Aku masih menatap mereka di barisan orang-orang yang datang tepat waktu.
Selesai babak pemberian hukuman telat, kami diberi sedikit pemandian yang bernama merayap diatas Lumpur sawah. Gila, seumur hidupku baru kali ini aku melihat sawah yang jika kita berdiri, maka akan memakan seluruh kaki hingga paha, sehingga cara yang paling aman dan tepat menyeberangi sawah ini adalah dengan merayap diatasnya.
Acaranya tidak lama, setelah merayap disawah, kami disuruh memanjat tebing, berlari dengan kencang sampai 45 menit menjelang waktu jum’atan.
Jum’atan siang ini terasa begitu berarti, terasa begitu berat sekaligus menantang bagiku. Jum’at ini khas!.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer