Siang ini masih sangat panas untuk kulalui…
tapi memang azzam ku telah kuat untuk membantu kawan-kawan panitia pekan kreativitas mahasiswa di fakultasku. Sehingga badan yang belum stabil setelah di serang diare+demam tetap ku pertaruhkan.
Ada sesuatu dorongan yang berasal dari lubuk bahwa aku memang harus tetap bergerak, ya meski terkadang pergerakan ku dicap tak ada oleh beberapa teman.
Layaknya kisah tadi, ketika briefing panitia PKM saling menyatakan bahwa “aku telah banyak bekerja untuk acara ini” atau “masa sih aku trus, yang lain dooong”.
Sejenak aku terkejut mendengarnya, karena yang mengatakannya bukanlah sembarangan orang. ya orang itu telah tertarbiyah. Tetapi, aku tersadar, yang segitulah kemampuan mereka.
Terkadang ketika kita telah memberikan seratus keringat dalam sebuah kegiatan telah kita katakan sebagai pengorbanan yang dahsyat. Padahal itu belum tentu bagi orang lain.
Aku jadi teringat dengan perkataan ustadzku; akhi, kita belum berbuat apa-apa untuk jamaah ini, untuk dakwah ini, jadi jangan sampai kita berhenti hanya karena rasa telah berbuat banyak.
ya seperti itu, aku jadi tersemangatkan. Oh ya, aku juga jadi ingat pada komik kung fu boy, ketika guru shosu mengatakan kepada chinmi bahwa jangan merasa cepat puas, jangan membuat batasan terhadap diri.
Inilah yang aku pahami, bahwa tak perlu membuat batas dalam usaha dan bergerak untuk perjuangan tegaknya Islam. Karena ketika kita telah membuat batasan, maka ketika itulah kita akan berhenti, padahal seharusnya perjuangan tidak kenal henti. Maka, janganlah membuat batasan agar kita merasa kekurangan dalam beramal.
“bekerjalah kamu, maka Allah dan orang-orang mukmin akan melihatnya…” itu kata Sang Khalik. Allah tidak pernah menuyuruh kita untuk berhenti atau melihat hasil, karena kita di suruh untuk bekerja dan bertawakal ” jika kamu telah bertekad maka bertawakalah kepada Allah”.
Aku jadi tersemangat atas ketidaksemangatan orang lain.