..::My Diary is My Best Friend::..

January 7, 2007

Film dan kultur

Filed under: Umum

Masih hangat lho berita tentang penolakan atau lebih tepatnya protes kaum muda perfilman kepada panitia FFI 2006. Mungkin ini pantas untuk dikupas.
Jika kita melihat muatan dari protes kaum muda perfilman itu kepada panitia FFI yang notabenenya adalah kaum senior perfilman Indonesia adalah karena penobatan film “ekskul” sebagai film terbaik. Nah,versi kaum muda neh, ekskul jelas2 menjiplak karya (musik) dari film jepang yang berjudul Flowers In The Strum, jadi gak pantes sama sekali untuk menjadi film terbaik 2006, selain itu kamu muda juga memprotes adanya lembaga sensor film indonesia, menurut mereka adanya lembaga itu justru mematikan kreativitas anak muda Indonesia dalam berkarya.
Hehehe…sampai disana dulu deh info terhangatnya, sekarang mari kita simak pendapat tentang eksistensi lembaga sensor film indonesia, karena kalo kita simak yang permasalahan utamanya, saya kurang tau tentang itu.
Apa jadinya lembaga sensor film indonesia di hilangkan?kebayang gak?bisa2 film Indonesia mirip film franch gitu. ya karena kan udah gak ada lagi yang memonitor atas pemutaran film.
Nah, jika adanya lembaga sensor film tersebut mematikan kreativitas insan perfilman Indonesia. saya tidak sepakat. Jika adanya itu mematikan. Nah, berarti insan perfilman (sutradara,produser,aktor,dll yang terlibat di sonoh) berkelakuan kotor dan mengarah ke negative. Ya karena setau saya film yang di sensor adalah film yang tidak layak untuk ditonton oleh kalangan tertentu terutama kaum muda.
Jika itu benar, maka saya orang pertama mengatakan berarti perfilman Indonesia tidak patut dimasukan dalam kementerian budaya dan pariwisata, ya karena budaya Indonesia adalah budaya yang sehat dan cerdas. Adanya lembaga sensor untuk tetap menjaga nilai budaya itu tetap ada. Budaya akan berpakaian sopan (memang ada beberapa daerah yang kurang “sopan”),ber sikap cerdas. Jika adanya pukulan,seks adalah tuntutan dari insan perfilman, makanya wajar aja donk generasi kita adalah generasi seks. Tul gak?
so, lembaga sensor film harus tetap ada. Bahkan jika saya liat, meski ada lembaga sensor saja film Indonesia sudah seperti itu, bayangkan jika lembaga sensor itu ditiadakan. pastilah insan perfilman (yang katanya anak muda yang kreativ dan cerdas) itu akan semakin “brutal” dalam membuat film.
So, permasalahannya mungkin adalah keingingan kaum muda untuk menguasai FFI, janganlah kaum tua terus. itu kan yang kawan2 inginkan sebenarnya.
Kalo ekskul dikatakan tidak bagus atau kurang penonton. Saya melihat sebaliknya. Dari pada film percintaan sepasang remaja yang lain. Cinta KUNO!!!
nah,bagi kawan2 perfilman yang ngebaca blog saya ini dan mungkin emosi, silahkan kritik saya, berikan masukan. Saya juga orang muda. mari kita berdiskusi dengan gaya anak muda juga. gaya yang cerdas,kreativ,saling menghargai, santun dan edukatif.
hehehe….saya juga manusia kok.

January 4, 2007

Dah lama gak nongol

Filed under: Umum

Assalamu’alaikum fren…
pa kabar neh,dah lama gak nongol disini,kangen juga jadinya.
Eh,sekarang masih di Duri-Riau, kota kecil yang penuh kenangan…

ngomong2 soal Duri
di kota ini aku menemukan dunia jahiliyah
di kota ini aku menemukan hidayah
di kota ini aku mengenal cinta
di kota ini juga aku mengenal kecewa
di kota ini kukenal pacaran
di kota ini juga ku kenal pengajian
hah…Duri kota kecil yang full memory…

jadi kangen ama temen2 lama yang gak mungkin aku sebutin disini.
by the way,suatu saat kita pasti merasakan bahwa kita adalah yang terbaik yang pernah ada. Tul kan?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer